Replika Bambu Runcing Wong Jowo Teluk Bintuni Curi Perhatian, Sistoyo: Ini Bentuk Mengenang Jasa Pahlawan di HUT RI Ke 81
TELUK BINTUNI, gardapapua.com — Karnaval budaya Nusantara dalam rangka memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kabupaten Teluk Bintuni berlangsung meriah. Arak-arakan yang digelar panitia menampilkan ragam budaya dari berbagai daerah serta perwakilan tujuh suku asli di Tanah Sisar Matiti.
Dilepas oleh Wakil Bupati Teluk Bintuni, Joko Lingara yang berpusat di garis start Depan Gedung Merah, Kelurahan Bintuni Barat, pada Sabtu (15/8/2026), Sebanyak 47 kelompok peserta turut ambil bagian dalam pawai budaya tersebut.
Dari sekian banyak penampilan, atraksi replika bambu runcing yang dibawakan Masyarakat Jawa atau “Wong Jowo” Teluk Bintuni menjadi salah satu yang paling menyita perhatian warga di sepanjang rute karnaval.

Kelompok ini tampil dengan atribut pejuang tempo dulu, mengenakan konsep para pejuang generasi muda dalam meraih kemerdekaan sambil membawa dan tertikam replika bambu runcing sebagai properti utama. Aksi tersebut dipimpin langsung oleh Karateker Pakuwojo Teluk Bintuni, Sistoyo.
Dalam keterangannya kepada media, Sistoyo menyampaikan, bahwa keikutsertaan Wong Jowo dalam karnaval ini bukan sekadar memeriahkan. Lebih dari itu, penampilan tersebut merupakan wujud penghormatan kepada para pejuang bangsa.
“Simbol bambu runcing ini mengingatkan kita pada masa ketika para pejuang dan pendahulu bangsa merebut serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia dengan alat yang sangat sederhana di tengah keterbatasan senjata modern,”Ujar Sistoyo.

Ia menegaskan, sebagai warga Jawa yang telah beranak-pinak dan hidup di Tanah Sisar Matiti, pihaknya ingin menunjukkan rasa terima kasih atas penerimaan masyarakat setempat. Melalui pawai budaya ini, pesan persatuan dan kerukunan ingin terus dijaga.
“Ini menjadi semangat dan semboyan bagi kami sebagai orang Jawa yang telah diterima di atas tanah Sisar Matiti, agar dapat hidup rukun, merawat nilai persatuan, dan menjaga wibawa. Sebagaimana menggambarkan sifat masyarakat Jawa yang menjunjung tinggi kehormatan, sopan santun, dan pengendalian diri,”Jelasnya.
Menurut Sistoyo, penggunaan replika bambu runcing dalam pawai memiliki makna mendalam. Atribut sederhana itu merepresentasikan keberanian rakyat dan para pejuang yang pantang menyerah meski menghadapi keterbatasan, serta membawa pesan persatuan untuk Generasi Muda Jawa di Teluk Bintuni, agar Jaga Wibawa.
Penampilan itu juga, lanjutnya, ingin menggambarkan bahwa kemerdekaan Indonesia diraih berkat gotong royong seluruh elemen bangsa, mulai dari rakyat biasa, santri, hingga pemuda.
“Ini adalah bentuk penghormatan akan sejarah. Tujuannya agar dalam menjaga ingatan kolektif generasi muda supaya tidak lupa pada akar sejarah bangsa,”Tegasnya.
Panitia HUT RI ke-81 Teluk Bintuni mengapresiasi keterlibatan seluruh kelompok peserta, termasuk Wong Jowo. Karnaval budaya ini dinilai berhasil menjadi ruang untuk menampilkan kekayaan budaya Nusantara sekaligus memperkuat semangat kebangsaan di tengah keberagaman suku yang ada di Teluk Bintuni.
Dengan berakhirnya pawai, pesan yang dibawa replika bambu runcing diharapkan tidak berhenti di jalanan. Semangat perjuangan, persatuan, dan penghargaan terhadap jasa para pahlawan diharapkan terus hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Sisar Matiti. [Ian/Red]
