Garda ManokwariGarda Papua BaratHeadline newsReligiSudut Pandang

Gubernur PBD Elisa Kambu Ajak FGM GKI Jadikan Raker Forum Dialogis Strategis Lahirkan Rekomendasi Iman Bangun Papua

TELUK BINTUNI, gardapapua.com – Gubernur Papua Barat Daya (PBD), Elisa Kambu menegaskan, Rapat Kerja I Forum Generasi Muda Gereja Kristen Injili di Tanah Papua harus menjadi forum dialogis yang konstruktif, bukan sekadar forum perdebatan.

Penegasan tersebut disampaikan Gubernur Elisa Kambu saat membuka Raker I DPP FGM GKI se-Tanah Papua yang berlangsung di Gedung Serbaguna Kalikodok, Teluk Bintuni, pada 29-30 Oktober 2026.

Menurut Elisa, forum dialogis menjadi ruang penting untuk menyatukan persepsi bersama terhadap isu-isu strategis yang telah disepakati dalam tema dan subtema Raker, sehingga mampu melahirkan rumusan program yang visioner dan aplikatif.

“Buka hati, jadikan forum ini forum dialogis, bukan forum perdebatan. Berdialog untuk menyatukan persepsi kita tentang isu-isu strategis,”Ujar Gubernur PBD, Elisa Kambu.

Gubernur Elisa mengingatkan bahwa tanggung jawab membangun Tanah Papua berada di pundak generasi yang ada saat ini. Hanya generasi di atas tanah ini sendiri yang akan bertanggung jawab untuk menghadirkan Shalom Allah, kedamaian dan kesejahteraan, di atas bumi Papua.

Untuk itu, dalam kasih Tuhan, ia tidak berpidato, melainkan menyampaikan pesan pastoral kepada seluruh peserta Raker.

“Saya ajak generasi muda yang hadir di sini sadar bahwa anda ada di sini karena Tuhan yang membawa anda ada di sini. Anda harus berkomitmen dan semakin percaya bahwa anda akan menjadi berkat untuk tanah ini,”Katanya.

Ia menjelaskan, makna menjadi berkat bagi tanah ini adalah kemampuan untuk melahirkan kesepakatan bersama berupa rumusan program-program strategis yang akan menjadi rujukan pelayanan beberapa tahun ke depan. Itulah kesempatan nyata untuk berbuat sesuatu bagi sesama dan bagi negeri.

“Jadi jangan tahan-tahan berkat yang ada pada kamu. Curahkan semua. Karena kita lagi menunggu anda, generasi muda ini,”Tegas Elisa.

Dalam pesan moral kedua, Gubernur Elisa menekankan adanya perubahan paradigma dalam membangun negeri. Jika pada masa lalu perubahan disuarakan melalui cara-cara yang konfrontatif, maka hari ini pendekatan itu sudah tidak relevan lagi.

“Kalau dulu-dulu kita bisa ribut-ribut, bisa bikin apa, bakar-bakar, bisa. Sekarang sudah tidak seperti itu lagi. Dan kalau kita ingin merubah sesuatu, maka kita harus seperti garam. Garam itu dia larut, baru bisa dirasakan,”Jelasnya.

Prinsip garam menjadi filosofi kepemimpinannya, bahwa untuk memberi rasa dan perubahan, generasi muda harus masuk, melebur, dan terlibat langsung di dalam sistem, bukan berada di luar sistem.

“Kita harus kerjakan bagian kita, selebihnya urusan Tuhan. Jadi kita harus berusaha dan belajar dari sekarang dengan mempercayai rencana Tuhan. Pemuda itu harus bermimpi. Karena mimpi itu perlu. Tapi mimpi yang harus bisa dikerjakan dan mampu melangkah maju,”Tambahnya.

Oleh sebab itu, melalui Raker FGM GKI ini, ia mendorong lahirnya gerakan dan terobosan luar biasa yang bersumber dari mimpi dan harapan generasi muda GKI dalam menopang pembangunan di Tanah Papua. Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan tidak bisa dilakukan sendiri.

“Kita tidak bisa sendiri. Butuh kemitraan dan kerja sama dengan pemuda serta kebersamaan dengan kelompok lainnya. Karena kita harus bersama-sama. Di situlah membutuhkan keberanian untuk membangun komunikasi lintas pihak demi kemajuan pelayanan kita,”Imbuh Elisa Kambu.

Gubernur PBD Elisa menjelaskan, bahwa Raker ini memiliki dua fungsi utama. Pertama sebagai media konsolidasi organisasi. Kedua sebagai ruang untuk mendiskusikan, memusyawarahkan, memutuskan berbagai gagasan yang ada, dan yang terpenting, mengerjakannya bersama-sama sepulang dari forum tersebut.

“Yang terjadi di mana-mana itu bicara sama-sama, ribut sama-sama, putuskan sama-sama itu bisa. Tapi kerjakan sama-sama itu yang berat. Nah, harusnya kita semua harus bertanggung jawab. Karena kita yang bicara, kita yang putuskan, kita harus bertanggung jawab untuk kita laksanakan,”Tegasnya.

Menurutnya, tahapan tersulit dalam organisasi telah terlewati, yakni ketika Petronela Krenak terpilih sebagai Ketua Umum. Saat ini struktur telah terbentuk, figur pemimpin telah ada, sehingga yang perlu dimantapkan adalah program-program besar yang telah disusun, termasuk penjadwalan dan rencana tindak lanjut yang harus dieksekusi di daerah masing-masing.

Pada penegasan terakhir, Gubernur Elisa kembali menekankan soal identitas organisasi. FGM GKI harus memiliki identitas tersendiri yang membedakannya dengan forum lain, yakni identitas Kristiani di mana Yesus menjadi pijakan utama.

“Maka pemuda-pemuda yang gabung di sini harus tertib. Tertib dalam semua hal. Tertib kelakuan, tertib perilaku, semua harus tertib. Kalau kita mau FGM dicintai banyak orang, dihormati, disegani baik pemerintah maupun masyarakat lain, maka anggota FGM harus tertib,”Pungkasnya.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Bupati Teluk Bintuni, Wakil Bupati, perangkat daerah, dan seluruh unsur Forkopimda yang hadir lengkap sebagai bentuk komitmen bahwa pemuda adalah aset penting bagi daerah.

“Kami semua berdoa forum ini harus memberi warna tersendiri dalam output yang dihasilkan,”Tutup Elisa. [Ian/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *