Kondisi 20 KM Tahota – Mameh Bukan Sekedar di Pelihara, Butuh Di “Aspal”

Klik Video Salah Satu Titik Ruas Jalan Mameh – Tahota 20 KM

MANOKWARI, gardapapua.com — Beginilah kondisi jalan trans papua yang menghubungkan Kabupaten Manokwari ke Kabupaten Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat, begitupun sebaliknya yang butuh keseriusan, perhatian dan sinergitas pemerintah pusat hingga ke daerah.

Sepanjang 20 Km inilah, ruas jalan di titik daerah wilayah Mameh, distrik Tahota, Kabupaten Mansel, yang merupakan jalanan dengan kondisi tanah labil alias masih berlumpur, menjadi taruhan nasib para supir mengais rejeki dengan kendaraan 4 x 4 double gardan bernilai ratusan juta rupiahnya.

Antrian panjang dilumpur panjang 20 KM (Mameh – Tahota) /Rabu (3/4/2019)

Bila turun hujan, maka tak heran sepanjang jalur jalan tanjakan gunung pasir hingga menuju titik wilayah perkampungan pertigaan distrik isim, terlihat berjejer panjang mobil hilux dan triton yang dijadikan taksi lintas kabupaten, mengantri mencari celah jalan yang baik untuk dilalui.

Jika tak dilewati segera, para supir akan bernasib sial. Terlebih bila sedang membawa barang bawaan dalam bentuk dagangan, dipastikan ada yang rusak. Terlebih, jenis barang bawaan itu merupakan barang dagangan kebutuhan pokok. seperti Ikan, Telur, Sayur, dan Buah dari Manokwari milik para pedagang di Pasar Sentral Bintuni.

Sebuah alat berat ketika menarik kemdaraan Truck di Jalan berlumpur (3/4/2019)

Ucup salah satu supir taksi hilux trans papua Manokwari – Bintuni, di Provinsi Papua Barat mengakui, kondisi jalan seperti ini telah menjadi biasa bagi mereka para pengemudi melintas dijalan jalur ruas jalan ini. Bahkan tak heran, mereka kerap tidur dan bermalam dengan para penumpang didalam kendaraan bila kondisi di sepanjang jalur ini sulit dilewati, serta tidak adanya alat berat milik perusahaan yang kebetulan melintas. Sebab ruas jalur jalan tersebut, sulit di prediksi bila hendak melintas.

” Kalau kondisi jalan seperti ini kita biasa bermalam. Saya bahkan pernah minum air hujan dari dedaunan atau kolam. Karena memang jalur dan kondisi seperti ini tidak dapat diprediksi, “Sebutnya kepada gardapapua.com, Rabu (3/4/2019)

Pantauan gardapapua.com, Rabu (3/4/2019) saat melintasi jalur ini ternyata benar adanya. Kondisi jalur jalan ini, masih sangat memprihatinkan.

Padahal waktu normal yang biasanya dapat ditempuh dalam waktu 7 – 8 jam, kini berubah menjadi belasan jam perjalanan bahkan dapat bermalam dijalan ruas sepanjang 20 KM, gunung pasir itu.

Meski diketahui jalur jalan yang masuk wilayah HGU salah satu perusahaan kayu di Distrik Tahota, serta mempunyai nilai anggaran pemeliharaan jalan yang bersumber dari APBN, hingga kini masih belum dapat di tata dengan baik ruas jalannya.

Sekilas pandangan mata melihat aksi tarik menarik kendaraan 4 x 4 double gardan hilux dan triton serta truck yang dibantu alat berat serta terpampang beberapa kondisi rusak mobil di ruas jalur ini sungguh memprihatinkan.

Selain itu, para supir harus rela sakunya dikerokin sebesar Rp. 50 ribu – Rp. 100 ribu per mobil. Ini adalah sebagai balas budi sukarela dan juga untuk mengganti biaya Bahan Bakar Minyak (BBM) alat berat yang turut membantu para supir dan kendaraannya keluar dari badai lumpur pada titik – titik ruas jalan sepanjang 20 KM tersebut.

Salah satu tokoh pemuda masyarakat Bintuni Yohanis Akwan kepada gardapapua.com, Rabu (03/4/2019) yang turut menyaksikan aksi tarik menarik kendaraan dijalur tersebut dalam perjalanan menuju kabupaten Teluk Bintuni menyatakan, bahwa kondisi jalan seperti ini bukan sekedar menjadi jalur jalan status pemeliharaan.

Dengan anggaran miliaran rupiah, mestinya Gubernur Papua Barat selaku kepala pemerintahan daerah, dapat melihat kondisi nyata dilapangan ini, sebagai kerangka acuan pembangunan infrastruktur jalan yang lebih maksimal dilakukan dibenahi, bila perlu sesegera di aspal.

Menurut anes sapaan akrabnya, kondisi jalan seperti ini jika dibiarkan maka menandakan ketidakmampuan pemerintah daerah menjalankan nawacita visi misi presiden dalam memaksimalkn pembangunan infrastruktur jalan dapat dirasakan merata disemua daerah.

Apalagi, masih hangat diingatan, ketika dalam kunjungan kerja Presiden RI Joko Widodo di Kota Sorong (1/4/2019) kemarin, dengan tegas menyatakan bahwa pada tahun 2020 mendatang semua ruas jalan lintas kabupaten /Kota akan terhubung degan baik.

” Diharapkan untuk pihak pemerintah harus bersinergi dari pusat hingga ke daerah. Dimana jalan trans provinsi Manokwari – Bintuni ini adalah penting bagi masyarakat. Sehingga diharapkan balai jalan dan jembatan bisa bergerak cepat. Karena kita semua tahu bahwa dana pemeliharaan jalan itu ada. Ini belum ada upaya yang cukup signifikan memperlancar arus pembangunan jalan untuk mempermudah akses transportasi Manokwari – Bintuni, “Papar Yohanis Akwan

Lanjut dia, bahwa hal ini penting ketegasan dari Gubernur Papua Barat maupun dinas kehutanan kepada perusahaan, agar sejatinya dapat duduk bersama melihat komitmen ini. Sebab ini adalah satu – satunya aksee jalan koridor menuju Bintuni, untuk dapat ditingkatkan kualitas infrastruktur jalannya.

” Karena sangat disayangkan jika Jarak tempuh yang dulu hanya 5 – 7 Jam, kami sekarang harus sampai bermalam. Kami tahu bahwa anggaran APBN yanh dikucurkan oleh Pemerintah pusat itu cukup banyak. Ini harus segera diselsaikan, “Tandasnya. [KK/Ian]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *