Asap Kebakaran Lahan Ancam Kesehatan Warga, Ini Langkah Dinkes Teluk Bintuni
TELUK BINTUNI, gardapapua.com — Api memang membakar semak dan pepohonan. Namun dampaknya tidak berhenti di lahan yang hangus. Di udara, asap membawa partikel halus yang tak terlihat, masuk bersama setiap tarikan napas warga, dan mengancam kesehatan paru-paru serta jantung.
Kekhawatiran ini kini nyata di Kabupaten Teluk Bintuni. Sejumlah titik kebakaran lahan dilaporkan terjadi di wilayah Tofoi, Babo, dan sebagian kawasan SP-4 Distrik Manimeri.
Terkait itu, Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua mengingatkan agar masyarakat tidak menganggap enteng asap kebakaran lahan.
Ketua PDPI Cabang Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P, MMRS, FAPSR, FISR, menjelaskan bahwa asap mengandung berbagai zat berbahaya seperti karbon monoksida, karbon dioksida, nitrogen oksida, ozon, hingga sulfur dioksida.
Yang paling berbahaya adalah particulate matter, yakni :
1. PM10 berukuran 2,5–10 mikrometer dapat mengiritasi hidung, tenggorokan, dan mata.
2. PM2,5 berukuran kurang dari 2,5 mikrometer jauh lebih berbahaya karena dapat menembus hingga ke saluran pernapasan dalam dan paru-paru.
“Partikel halus ini dapat masuk ke dalam saluran napas dan paru sehingga menimbulkan gangguan paru dan jantung,”Ungkap dr. Wiendo saat edukasi di Bintuni, pada Senin (24/8/2026).

Kata dia, bahaya Karbon monoksida juga menjadi ancaman serius. Gas ini berikatan dengan hemoglobin lebih kuat daripada oksigen, sehingga mengurangi kemampuan darah mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh.
Gejala yang bisa muncul cukup cepat: mata perih, hidung dan tenggorokan iritasi, batuk, bersin, sesak napas, dada terasa berat, hingga muncul bunyi mengi.
Kelompok yang paling rentan adalah pada usia anak dan balita, ibu hamil, lansia, penderita asma, PPOK, penyakit jantung, serta pekerja di luar ruangan. Bagi mereka yang memiliki penyakit bawaan, paparan asap dapat memperparah kondisi. Kasus ISPA pada anak, serangan asma, dan gangguan jantung berisiko meningkat.
Ibarat siapkan payung sebelum hujan, Dinas Kesehatan Teluk Bintuni tidak ingin terlambat, sebaliknya mereka ingin bergerak cepat, melakukan langkah – langkah penanganan.
Terkait itu, Plt. Kepala Dinkes Teluk Bintuni, dr. Johannes Risamasu, mengimbau warga untuk mengenali gejala sejak dini dan tidak menunda berobat.
“Jangan ragu menggunakan fasilitas layanan kesehatan yang ada, mulai dari Pustu, Puskesmas, sampai RSUD Teluk Bintuni,”Tegas dr. Johannes.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes telah menyiapkan:
1. Obat-obatan, di seluruh Pustu dan Puskesmas untuk penanganan ISPA, iritasi, dan gangguan pernapasan.
2. Tabung oksigen, di sejumlah Puskesmas. Contohnya, Puskesmas Tofoi telah menerima 4 tabung oksigen. Puskesmas Manimeri juga mendapat penambahan sesuai kebutuhan.
“Ini payung sebelum hujan. Jangan sampai sudah terjadi penyakit baru kita bingung,”Ujar dr. Johannes.
Berbeda dengan kebakaran gedung, api di lahan dapat berpindah dan asapnya terbawa angin hingga ke wilayah yang jauh dari titik api. Karena itu kesiapan layanan kesehatan menjadi sangat penting.
PDPI Cabang Papua menekankan bahwa perlindungan tidak cukup hanya dengan masker. Masyarakat diminta melakukan langkah berikut:
1. Kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama saat kualitas udara buruk.
2. Tutup pintu dan jendela untuk mencegah asap masuk ke rumah.
3. Gunakan AC mode recirculate, agar udara luar tidak terus masuk.
4. Gunakan masker, saat terpaksa keluar rumah.
5. Jaga daya tahan tubuh, dengan istirahat cukup, makanan bergizi, dan minum air putih.
6. Hindari asap rokok bagi perokok, ini saat yang tepat untuk berhenti.
7. Jaga kebersihan, dengan mencuci tangan pakai sabun atau hand sanitizer.
Warga juga diminta memantau perkembangan kebakaran dan kualitas udara di sekitar. Jika muncul gejala seperti batuk terus-menerus, dahak, sesak napas, mengi, atau nyeri dada, segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat.
Di Teluk Bintuni, api di lahan masih bisa dipadamkan. Namun untuk paru-paru, kerusakan akibat asap jauh lebih sulit dipulihkan. Pencegahan adalah langkah terbaik. Karena kesehatan masyarakat adalah investasi paling berharga bagi masa depan daerah. [Ian/Red]
