DEPIDAR SOKSI Papua Barat Dukung E10, Minta Pemprov Proaktif Sambut Peluang Investasi dan Hilirisasi Bioetanol
MANOKWARI, gardapapua.com – Dewan Pimpinan Daerah SOKSI Papua Barat menyatakan dukungan penuh terhadap kebijakan Pemerintah RI yang akan menerapkan bahan bakar campuran Bioetanol 10 persen atau E10 mulai 2027.
Plt. Ketua DEPIDAR SOKSI Papua Barat, Mozes Rudy F. Timisela, S.T, menilai program ini sebagai peluang besar bagi Papua Barat masuk dalam rantai pasok energi nasional dan mendorong kemandirian energi.
“Kami mengapresiasi Anggota Komisi XII DPR RI Fraksi Golkar, Alfons Manibui, yang terus memperjuangkan agar Papua Barat tidak hanya jadi penonton, tapi juga menerima manfaat nyata lewat investasi, industri, dan kesejahteraan petani,”Ucap Mozes Rudy F. Timisela, S.T, pada Selasa (22/7/2026).
Menurutnya, suksesnya program E10 tidak hanya ditentukan pusat. Pemerintah Provinsi Papua Barat harus proaktif agar kebijakan nasional bertemu dengan kesiapan daerah.
“Jangan sampai saat investasi bioetanol berjalan, Papua Barat belum siap dari sisi perencanaan dan kebijakan daerah,”Tegasnya.
Enam (6) Langkah Strategis yang Didorong SOKSI Papua Barat :
1. Memetakan potensi yaitu Komoditas bahan baku bioetanol seperti tebu, singkong, dan komoditas lokal lainnya.
2. Menyiapkan kawasan sentra bahan baku dan hilirisasi bioetanol.
3. Mengintegrasikan program ke dalam dokumen perencanaan pembangunan daerah.
4. Membangun koordinasi dengan Kementerian ESDM, Kementerian Pertanian, dan calon investor.
5. Menyiapkan SDM lokal sebagai tenaga kerja utama industri bioetanol.
6. Melibatkan petani, koperasi, UMKM, BUMD, dan masyarakat adat, dalam rantai nilai ekonomi baru.
Terkait itu, DEPIDAR SOKSI Papua Barat meyakini jika dipersiapkan sejak sekarang, Papua Barat berpeluang menjadi pusat pengembangan bioetanol di kawasan timur Indonesia.
Program E10 tidak hanya soal energi. Program ini juga membuka peluang peningkatan kesejahteraan petani, penguatan pertanian, pertumbuhan investasi, lapangan kerja baru, industri hilirisasi, serta peningkatan PAD.
“Kami mengajak semua pemangku kepentingan berkolaborasi. Saat pusat membuka investasi rantai pasok bioetanol, Papua Barat harus sudah siap jadi daerah yang kompetitif dan berkontribusi pada ketahanan energi nasional,”Pungkas Timisela. [Ian/Red]
