Channel YoutubeDaerahGarda Papua BaratGarda Teluk BintuniHeadline newsHukum dan KriminalHUMANIS

Penuh Kasih : Bupati Yohanis Manibuy dan Forkopimda Hadir Jawab Tangis Keluarga Korban dan Aspirasi Pengungsi Moskona secara Humanis

 

TELUK BINTUNI, gardapapua.com — Kehadiran pemimpin di tengah rakyatnya menjadi kunci utama menjaga stabilitas daerah. Hal itu ditunjukkan Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy, yang hadir langsung di tengah warga Suku Moskona ditengah aksi pemalangan jalan di Tisay SP5, Distrik Bintuni Timur, pada Rabu (24/09/2026), malam.

Aksi protes warga ini dipicu oleh insiden kecelakaan lalu lintas (lakalantas) yang terjadi di ruas jalan utama kawasan Tisay, yang mana korbannya adalah warga berinsial YO, hingga mengalami luka parah di bagian kaki kanannya akibat ditabrak kendaraan bermotor yang diduga dikemudikan oleh pelaku dalam pengaruh minuman keras (miras).

Emosi warga memuncak hingga membakar sepeda motor pelaku dan menutup total akses utama keluar masuk Kota Bintuni. Situasi yang semula tegang dan penuh asap, berubah menjadi suasana kekeluargaan ketika Bupati Yohanis Manibuy tiba di lokasi pada pukul 20.26 WIT didampingi Wakil Bupati Joko Lingara, Kapolres Teluk Bintuni AKBP Marully Rachmat Azwar, dan Dandim 1806/TB, Letkol Inf. Yan M. Doli Simanjuntak, serta beberapa anggota DPRK Teluk Bintuni dan tokoh pemuda serta tokoh masyarakat Moskona.

Dengan penuh kasih dan kerendahan hati, Bupati tidak berdiri di atas mobil komando. Ia memilih duduk bersama di tengah jalan, di tengah warga, mendengarkan langsung keluhan keluarga korban dan aspirasi keluarga besar Moskona.

Dalam dialog humanis itu, Bupati Yohanis Manibuy menegaskan, bahwa Teluk Bintuni dibangun di atas bingkai persaudaraan 7 Suku Sisar Matiti yang menjunjung tinggi agama, adat dan budaya.

“Kita semua adalah orang beragama yang menjunjung adat dan budaya. Persoalan harus diselesaikan dengan hati dan kebersamaan, bukan dengan amarah di tengah jalan,”Ujar Bupati Yohanis Manibuy dengan penuh kebijaksanaan.

Bupati juga mengajak seluruh lapisan masyarakat yang mendiami Teluk Bintuni untuk bersama menjaga tali persaudaraan, keamanan dan kedamaian sebagai modal utama pembangunan.

Pendekatan preventif dan kekeluargaan berlanjut di kediaman keluarga korban Jeremias Orocomna di belakang Kantor Subdenpom. Dari tuntutan awal denda adat atau uang darah sebesar Rp.1 Miliar, melalui musyawarah yang dipimpin Bupati, akhirnya disepakati bersama sebesar Rp. 500 Juta, sebagai bentuk tanggung jawab moral kepada keluarga korban.

Di momen penuh empati itu, warga juga menyampaikan aspirasi yang lebih dalam, yakni kejelasan anggaran pemulangan pengungsi Moskona ke kampung halaman dan permintaan penarikan Pasukan Satgas TNI di wilayah Moskona Utara.

Menjawab aspirasi tersebut, Bupati Yohanis Manibuy menjawab dengan bijak dan terbuka. Terkait pemulangan pengungsi, Pemerintah Daerah masih mempertimbangkan secara matang jaminan kesejahteraan dan pelayanan dasar agar masyarakat bisa pulang dengan aman dan hidup layak.

Sementara terkait penarikan pasukan, Bupati dengan jujur menegaskan bahwa hal tersebut bukan kewenangan Pemerintah Daerah, namun aspirasi tersebut akan disampaikan sesuai tahapan dan mekanisme yang berlaku kepada pihak berwenang.

Buah dari pendekatan penuh kasih ini sangat terasa. Warga secara sukarela dan damai membuka palang jalan yang telah melumpuhkan akses selama berjam-jam. Personel Polres Teluk Bintuni kemudian menurunkan kendaraan water cannon untuk memadamkan sisa api dan membersihkan badan jalan. Pada pukul 22.20 WIT, arus lalu lintas kembali normal.

Kehadiran Bupati Yohanis Manibuy di tengah warga Moskona malam itu menjadi bukti nyata kerendahan hati seorang pemimpin. Bahwa dialog kekeluargaan, bukan kekerasan, adalah kunci utama menjaga stabilitas daerah dan merawat kedamaian dalam bingkai persaudaraan 7 Suku Sisar Matiti di Teluk Bintuni. [Ian/Red]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *