Aspirasi RakyatBudayaDaerahGarda Papua BaratGarda Teluk BintuniRegional

Pemkab Teluk Bintuni Sambut Sosialisasi Disarpus Papua Barat, Komitmen Jaga Manuskrip Tujuh Suku Asli Daerah Sisar Matiti

TELUK BINTUNI, gardapapua.com – Pemerintah Kabupaten Teluk Bintuni menyambut baik pelaksanaan Sosialisasi Kebijakan Bidang Perpustakaan, pada Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) Tingkat Provinsi Tahun 2026 yang digelar di Teluk Bintuni, pada Kamis (24/9/2026).

Dukungan tersebut disampaikan Bupati Teluk Bintuni melalui Asisten III Setda Teluk Bintuni, Yohanis Manobi, yang hadir membuka dan mendampingi jalannya kegiatan.

Yohanis Manobi menegaskan, bahwa pemkab teluk bintuni melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, pemerintah di bawah kepemimpinan Bupati Yohanis Manibuy – Wakil Bupati Joko Lingara, juga berkomitmen memastikan kekayaan sastra lisan dari tujuh suku asli Teluk Bintuni tidak punah ditelan zaman.

Langkah strategis yang didorong adalah menghimpun, membedah, membukukan, dan mengesahkan cerita rakyat sebagai aset literasi daerah yang sah dan abadi bagi generasi masa depan masyarakat adat di Tanah Sisar Matiti.

Kekuatan utama kegiatan ini adalah keterlibatan langsung para tokoh dan tetua adat dari tujuh suku asli, yakni Suku Sumuri, Sebyar, Sougb, Moskona, Wamesa, Irarutu, dan Kuri. Mereka merupakan pemilik sah cerita, penjaga nilai, dan penentu keaslian naskah.

Secara teknis, Kepala Bidang Perpustakaan Teluk Bintuni, Robert Irianto Parantean, dalam laporannya menegaskan urgensi kegiatan ini. Menurutnya, sebagian besar sejarah, mitos, legenda, dan nilai luhur Teluk Bintuni masih diwariskan secara lisan.

“Seiring perkembangan zaman, dokumentasi tertulis menjadi hal yang sangat mendesak. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan mengambil langkah strategis untuk menghimpun, membedah, dan membukukan cerita rakyat tersebut agar menjadi aset literasi daerah yang sah dan abadi,”Ujar Robert.

Sosialisasi yang berlandaskan UU Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan dan Perda Nomor 3 Tahun 2024 tentang Penyelenggaraan Perpustakaan ini menghadirkan narasumber dari Perpustakaan Nasional RI dan Universitas Papua.

Senada, Ketua Panitia Provinsi, Alfred O. Layaba, S.H., menambahkan, sosialisasi menjadi titik awal membangun kesadaran bersama bahwa manuskrip bukan sekadar dokumen lama, melainkan warisan pengetahuan bernilai penting bagi generasi kini dan mendatang.

“Kita ingin membangun kesadaran dan partisipasi masyarakat dalam menjaga serta melaporkan keberadaan manuskrip yang masih tersimpan di keluarga, tokoh adat, lembaga keagamaan, dan komunitas,”Katanya.

Untuk keberhasilan di daerah, Pemkab Teluk Bintuni diharapkan mendukung pelaksanaan kegiatan, memfasilitasi koordinasi lintas perangkat daerah, mengidentifikasi peserta, menginformasikan kegiatan kepada tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan komunitas, serta membantu mengidentifikasi pemilik naskah kuno.

Selain itu, Pemkab Teluk Bintuni juga diharapkan, dapat mendorong pengisian formulir pendataan awal, menjaga komunikasi dengan pemilik naskah, serta mendukung tindak lanjut inventarisasi dan identifikasi setelah kegiatan.

“Ini adalah langkah awal yang nyata untuk menjaga warisan budaya dan pengetahuan Papua Barat agar tetap hidup untuk generasi mendatang,”Pungkas Alfred. [Ian/Red]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *