Selain Toleransi, Warga Kei Diminta Perkuat Persatuan dan Kawal Karya Pembangunan Daerah ‘Serasi’ di Teluk Bintuni
MANOKWARI, gardapapua.com — Ketua Kerukunan Keluarga Kei Papua Barat, Prof. Dr. Roberth, K.R. Hammar,S.H.,M.Hum.,M.M.,CLA, mengharapkan, Masyarakat Suku Kei yang mendiami tanah sisar matiti tiada henti untuk merawat toleransi dan memperkuat kontribusi nyata dalam mendukung pembangunan daerah.
Ajakan penting ini disampaikan langsung dalam pembukaan Musyawarah Daerah (Musda) ke – II Kerukunan Keluarga Kei (K3TB) Kabupaten Teluk Bintuni pada Sabtu, 18 Juli 2026.
Musda kali ini mengusung tema ‘Mempererat Tali Persaudaraan Keluarga Kei Menuju Bintuni yang Serasi, Maju dan Berbudaya’, mengingatkan bahwa keberadaan Keluarga Kei di Teluk Bintuni adalah karena kebesaran hati masyarakat adat asli tujuh suku setempat.

“Kita makan di sini, minum di sini, dan tinggal di sini. Maka sudah sewajarnya kita menghargai tuan rumah, yaitu suku-suku asli Bintuni. Tanpa mereka, kita tidak mungkin bisa hidup dan berkarya di tanah ini,”Ujar Ketua Kerukunan Keluarga Kei Papua Barat, Prof. Dr. Roberth, K.R. Hammar, dalam sambutan arahannya.
Ia menekankan pentingnya kerja sama dengan masyarakat adat. Sebab dari situlah persaudaraan tumbuh, dan terbawa turun kepada anak-cucu ke depan bisa hidup lebih baik dan berdampingan dengan aman dan damai.
Selaku Ketua Kerukunan Kei tingkat Provinsi Papua Barat, Prof. Roberth Hammar mengajak, seluruh warga Kei mendukung siapa pun pemimpin yang kini dipercaya, mulai dari Bupati, Wakil Bupati, hingga anggota DPR. Dukungan itu penting agar program pembangunan bisa berjalan lancar dan terwujud, dengan impelementasi asas manfaat dirasakan kembali nanti oleh Masyarakat luas, secara khusus keluarga besar kei yang telah mendiami tanah sisar matiti.
Namun demikian, kata Hammar, jikalau ingin mengkritisi, kritisilah kebijakan dengan santun dan beretika. Sebabnya, dalam hal mendukung bukan berarti diam. Masyarakat juga diminta aktif mengawasi dan terlibat aktif dalam pembangunan daerah . “Kalau ada yang tidak sesuai, tanyakan baik-baik. Dulu harusnya begini, kenapa sekarang jadi begini. Kritik boleh, tapi dengan cara yang santun,”Pesan Roberth Hammar.
Kepada Ketua Terpilih hasil Musda nanti, Ia menegaskan, bahwa program kerja tidak boleh hanya jadi slogan. Warga Kei yang berjumlah lebih dari 2.000 jiwa di Teluk Bintuni diharapkan menjadi motor penggerak kegiatan sosial, gotong royong, dan pemberdayaan yang langsung dirasakan masyarakat kei nantinya.
Mengingat Teluk Bintuni adalah kabupaten yang sangat luas di Papua Barat dan Papua Barat Daya (PBD), namun melalui tantangan terbesar saat ini adalah mengentaskan kemiskinan yang masih cukup tinggi tidak bisa dikerjakan oleh Bupati selaku kepala daerah atau Anggota Legislatif (DPRK) seorang diri. Maka pentingnya, kolaborasi dan dukungan semua pihak, wajib turut berkontribusi.
“Tidak mungkin Bupati dan DPR bekerja sendiri. Mereka butuh dukungan kita semua. Kalau kita bersatu, Teluk Bintuni dalam dinamika pembangunan daerah bisa melesat lebih maju,”Katanya.
Ia juga mengingatkan agar perbedaan pendapat tidak memecah persaudaraan. Energi yang ada sebaiknya dialihkan menjadi semangat kerja sama, bukan perpecahan.
“Kalau kita kuat dan bersatu, tidak akan ada perpecahan. Karena tujuan kita sama membangun Bintuni yang serasi, maju, dan berbudaya,”Pesannya.
Musda ke-II K3TB ini diharapkan menjadi momentum bagi Keluarga Kei untuk memperkuat peran sebagai bagian dari masyarakat Teluk Bintuni yang cinta damai, produktif, dan mendukung penuh visi pemerintah daerah.
Sekedar diketahui, dan diingatkan kembali, bahwa garis keturunan Bupati Teluk Bintuni, Yohanis Manibuy yang akrab disapa (Anisto), merupakan seorang anak laki – laki (Yenan baran,red) yang dilahirkan dari rahim perempuan kei asal yaf avun (kei kecil,red).
Dimana ada dua hal yang dapat membuat seorang lelaki Kei diwajibkan untuk mempertaruhkan apa saja, termasuk juga nyawa, yakni batas tanah dan saudara perempuan. Hal ini berarti kedudukan perempuan dalam masyarakat Kei mendapat tempat yang mulia, yakni Dihormati dan Dijaga. [Ian/Red]
