DaerahGarda ManokwariGarda Papua BaratHeadline newsOlahragaSudut Pandang

Felix Yakuza dan Atlet Biliar Berprestasi Papua Barat Minta Kepastian Pembinaan menuju PON, POBSI Diminta Beri Penjelasan Terbuka

MANOKWARI, gardapapua.com — Para atlet biliar Papua Barat mendesak Pemerintah Provinsi Papua Barat, KONI Papua Barat, dan Pengurus Provinsi (Pengprov) Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Papua Barat memberi kepastian pembinaan berkelanjutan serta realisasi bonus prestasi, bagi atlet berprestasi di daerah.

Desakan disampaikan Felix, atlet biliar peraih medali perunggu PON XX Papua 2021, dan Bung Jhon, pemilik Club Yakuza Manokwari yang baru menghantarkan timnya meraih juara umum Open Turnamen Biliar Dandim 1806/Teluk Bintuni Cup Series I.

Pernyataan itu disampaikannya, menyoroti pembinaan dan bonus bagi atlet biliar berprestasi yang kembali mengemuka di Manokwari sebagai pusat pemerintahan dan olahraga Papua Barat. Selain itu, sebagai langkah menyambut perhelatan akbar di Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII tahun 2028 mendatang.

“Kami tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kami hanya berharap ada pembinaan yang berkelanjutan, fasilitas latihan yang memadai, serta kesempatan mengikuti kompetisi secara rutin agar kemampuan atlet terus berkembang,”Ucap Felix saat ditemui awak media, pada Kamis (11/6/2026), di Manokwari.

Para atlet menilai prestasi yang diraih tidak dibarengi sistem pembinaan jelas dan penghargaan layak. Banyak atlet biliar masih berlatih mandiri, membiayai sendiri, dan kesulitan ikut kompetisi. Bonus prestasi yang pernah dijanjikan POBSI Papua Barat juga belum ada kepastian realisasi.

” Kami pertanyakan Persatuan Olahraga Biliar Seluruh Indonesia (POBSI) Papua Barat, terutama menyangkut kepastian pembinaan. Ini PON sudah di depan mata, agar yang menjalani debut adalah atlet yang benar – benar memiliki kemampuan dan pengalaman mumpuni, dan wajib mengikuti rangkaian tahapan pembinaan didaerah,”Pintanya.

Senada dengan felix, Bung Jhon juga berharap, melalui pembinaan rutin, fasilitas latihan memadai, dan kompetisi berkelanjutan agar atlet bisa berkembang. Ia menegaskan bonus bukan soal materi, melainkan bentuk penghargaan atas dedikasi.

“Atlet adalah aset daerah. Kalau pembinaan lemah dan penghargaan tidak jelas, jangan heran kalau atlet terbaik pindah daerah atau berhenti,”Tegas Bung Jhon.

Para pencinta olahraga biliar di daerah berharap ketiga lembaga terkait segera menindaklanjuti dengan program terukur dan transparan, agar prestasi Papua Barat tidak berhenti jadi catatan sesaat.

Mengingat hingga saat ini, masih banyak atlet yang berjuang mempertahankan prestasi dengan keterbatasan fasilitas dan dukungan pembinaan.

” Perlu dicatat, keberhasilan atlet merupakan hasil dari proses panjang yang membutuhkan latihan, pengorbanan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit,”Tukasnya.

“Ketika atlet berhasil membawa nama daerah, tentu semua bangga. Tetapi setelah itu, atlet juga membutuhkan perhatian yang sama agar mampu mempertahankan bahkan meningkatkan prestasinya,”Tutupnya menambahkan. [ARS/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *