Masyarakat Klaim Kepimpinan Bupati Bintuni Belum Maksimal

Klik Tautan Video Dibawah ini dan Simak Selanjutnya, Jangan Lupa Like & Subscribe 

 

TELUK BINTUNI, gardapapua.com — Di negara Indonesia tujuan bernegara termaktub dalam Alenia ke 4 Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang berbunyi “ membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia.

Tujuannya untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Mestinya tak lazim lagi bila intergritas seorang pemimpin, yang tampak ‘dipertaruhkan’, terutama soal kebijakan dan pengambilan keputusan ketika dia menjadi pemimpin.

Sejalan dengan fakta di atas, dalam pemahaman sederhana sebagaimana paparan Konfusius, pemimpin yang lahir (ada), harus menjadi pelayan publik, pelayan untuk semua orang dan tak pandang buluh.

Sebab, menjadi pelayan publik pada hakekatnya penting bagi setiap pemimpin, maka semangat pelayanan, harus melandasi tindakannya. Meski sejalan dengan itu, peran pemimpin yang bertindak berdasarkan tindakan etis, juga harus menunjukkan sikap sebagai pemimpin yang ‘memerintah’ sekaligus memiliki kemampuan ‘meluruskan’.

Adapun melihat keterkaitan berdasarkan tolak ukur referensi tersebut, tentu harusnya sosok setiap pimpinan daerah baik Bupati/Wakil Bupati mampu untuk mendiskusikan berbagai masalah dengan baik.

Selain itu harus begitu menghargai setiap orang yang berhadapan dengannya dan menempatkannya pada kedudukan yang tinggi. Bisa dikatakan, seorang pemimpin merupakan sosok yang mengakar dan dekat dengan rakyatnya. Itulah yang membuat masyarakat dari berbagai golongan dan status akan amat menghormati, mengagumi, dan mencintainya.

Namun hal ini sedikit berbanding terbalik dengan realita yang terjadi di kabupaten teluk bintuni. Mempunyai Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan tahun 2019 sebesar Rp. 2,4 triliun, mestinya capaian pemerataan kesejahteraan rakyat itu bisa dirasakan disemua sisi.

Tobias Menci, salah satu warga Kampung Wesiri – Sibena, Kabupaten Teluk Bintuni, Jumat (24/7/2020) misalnya, mengaku kecewa dan menilai Bupati Teluk Bintuni Petrus Kasihiw belum sepenuhnya prorakyat alias belum maksimal.

Hal itu dapat dilihat serta dirasakan melalui minimnya sektor perputaran ekonomi yang yang tidak berpihak pada rakyat.

” Saya ajak masyarakat untuk sama – sama mari kita keluar dari dia, karena kami rakyat menderita dari segi ekonomi. Selain itu, kami butuh sosok pimpinan yang seperti alfons manibuy,”Ujarnya

Tobias lalu mengharapkan, agar kedepan dalam kepimpinan Paslon Ali Ibrahim Bauw – Yohanis Manibuy (Anisto) jikalau terpilih memimpin kabupaten teluk bintuni, dapat terus berjalan dan mengembalikan kejayaan teluk bintuni, demi kesejahteraan rakyat. [TIM/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *