“Derita Tahota”, Supir Dan penumpang Jalan 5 Km Untuk Cari Makan

MANOKWARI, gardapapua.com — Persoalan jalan trans Papua Barat yang menghubungkan Manokwari Selatan dan Teluk Bintuni, yang mengalami rusak parah, terus menjadi sorotan sejumlah awak media.

Kerusakan terparah terdapat di gunung pasir, dan Kolam Bebek, (istilah yang dipakai supir), di kampung Mameh, distrik Tahota, Manokwari selatan, dimana sejumlah kendaraan jenis, Whel 4 WD, terjebak dan tertanam didalam lumpur, sehingga tidak dapat melanjutkan perjalanan ke Bintuni atau ke Manokwari.

Akibatnya, banyak kendaraan ikut mengantri sambil menunggu mobil yang terjebak dapat keluar dari lumpur tersebut, dan untuk keluar dari lumpur, para supir pun harus bergotong royong dengan cara menarik mobil dengan menggunakan tambang atau tali slank.

Namun terkadang, usaha yang dilakukan oleh sesama supir, tidak membuahkan hasil, karena lumpur di wilayah itu sangatlah dalam, disaat mengalami kondisi ini, terkadang para supir meminta bantuan kendaraan berat, seperti, Eksavator agar dapat membantu menarik mobil mereka agar kendaraan lain dapat melanjutkan perjalanan.

Salah satu alat berat (eksavator) di Distrik Tahota, Mameh.

Dalam kondisi seperti ini, mereka sangat memerlukan makanan, karena ada supir dan juga para penumpang yang sudah terjebak hingga 3 hari hari, dan untuk mendapatkan makanan atau minuman, para supir serta penumpang terpaksa harus berjalan kaki sejauh 5 km, inilah derita perjalanan yang hsrus dilalui para masyarakat yang melintas diruas jalan ini.

“Kasihan, kami dan beberepa penumpang harus jalan kaki 5 kilo ke camp untuk cari makan, setelah itu kami balik, dan jalan kaki lagi,”Keluh Rahman salah satu supir yang diwawancarai oleh sejumlah awak media.

Rahman menuturkan, kalau ada banyak ibu-ibu yang harus berjalan sambil menggendong anaknya, melewati ruas jalan tersebut.

“Saya kasihan lihat mereka, apalagi kalau mereka terpeleset dan jatuh akibat licin,”Tuturnya.

Rahman pun berharap, agar pemerintah lebih serius memperhatikan kondisi jalan di mameh, distrik tahota, Manokwari Selatan,agar warga dapat berkatifitas dengan baik tanpa harus bernalam di tengah hutan. [KK/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *