Dokter Paru Teluk Bintuni Imbau Semua Warga Gunakan Masker, Waspada Kabut Asap Mengancam Kesehatan
TELUK BINTUNI, gardapapua.com — Kabut asap yang masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, tidak hanya membatasi jarak pandang, tetapi juga menyimpan ancaman serius bagi kesehatan masyarakat.
Partikel halus dan polutan yang terkandung di dalam asap dapat masuk ke dalam tubuh melalui sistem pernapasan dan memicu gangguan kesehatan, terutama pada organ paru-paru. Sumber asap tersebut dapat berasal dari kebakaran hutan dan lahan, emisi kendaraan bermotor, maupun aktivitas industri.
Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Teluk Bintuni sekaligus Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Papua, dr. Wiendo Syahputra Yahya, Sp.P.,M.MRS, FAPSR, FISR,pada Senin (28/09/2026) mengingatkan, bahwa masyarakat agar tidak menganggap remeh keberadaan kabut asap.
Menurutnya, paparan asap dapat menimbulkan berbagai keluhan, mulai dari mata perih dan iritasi, bersin, hidung tersumbat, tenggorokan gatal, hingga batuk dan infeksi saluran pernapasan.
“Kondisi tersebut dapat lebih berat pada penderita asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), penyakit jantung, serta kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan ibu hamil,”Jelas dr. Wiendo.
Ia mengimbau masyarakat untuk segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala-gejala yang mengkhawatirkan, seperti sesak napas yang semakin berat, dada terasa berat atau nyeri, kesulitan berbicara satu kalimat penuh, tubuh lemas, penurunan kesadaran, bibir atau jari yang membiru, maupun demam tinggi disertai batuk berkepanjangan.
“Jika mengalami gejala-gejala tersebut, segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan, baik Puskesmas maupun rumah sakit,”Tegasnya.
Guna mengurangi risiko dampak kabut asap, dr. Wiendo menganjurkan masyarakat untuk membatasi aktivitas di luar ruangan, menutup pintu dan jendela rumah dengan rapat, serta menggunakan masker saat harus beraktivitas di luar.
Selain itu, aktivitas yang dapat menghasilkan asap di dalam rumah, seperti merokok, membakar sampah, penggunaan kayu bakar, dan obat nyamuk bakar, perlu dihindari. Masyarakat juga diminta untuk tidak melakukan pembakaran lahan atau hutan dan menunda aktivitas olahraga di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik.
Perlindungan terhadap kesehatan, menurut dr. Wiendo, perlu dilakukan sejak awal paparan asap terjadi dan tidak menunggu hingga kualitas udara kembali bersih. [Ian/Red]
