Daud Indouw Nilai Praktek Money Politik Masih Menjamur : “Kita Harus Lawan Money Politic”

TELUK BINTUNI, gardapapua.com — Perhelatan pilkada serentak 2020 yang digelar di 9 kabupaten/kota se-papua barat hampir usai. Terlepas dari hasil akhir kalah dan menang, selaku intelektual Arfak dan Pengamat Politik Papua Barat, Daud Indouw, SH punya beberapa catatan atas pelaksanaan pilkada serentak kali ini.

Dalam wawancara singkatnya, rabu (16/12/2020), Daud Indouw menilai money politic adalah musuh bersama yang harus di lawan dan diakhiri agar melahirkan kepala daerah yang amanah.

Kata dia, pelaksanaan pilkada di beberapa tempat di papua barat masih sarat praktek politik uang dan kesannya sangat transaksional.

“Sesuai laporan yang kami terima, pelanggaran politik uang masih terjadi. Kita berjuang untuk kebenaran, penegakkan demokrasi supaya bertumbuh dengan baik, terutama yang kita harus lawan adalah money politic ini,”Ungkap Daud

Peran Bawaslu sebagai pengawas pelaksanaan pemilu, kata Daud, jika didalam pengawasannya ditemukan adanya dugaan pelanggaran pidana pemilu, maka wajib untuk diselesaikan melalui Sentra Gakkumdu.

Bawaslu dan Gakkumdu juga diharapkan melakukan tugas secara profesional untuk menindak lanjuti semua laporan maupun temuan pelanggaran pemilu.

“Sepanjang itu bertentangan dengan UU, harus ditindak lanjuti. Maka yang punya kewenangan terutama bawaslu dan gakkumdu. Saya lihat ini bawaslu dan gakkumdu juga harus kerja profesional untuk menindak lanjuti temuan-temuan itu, harus ditegakkan,” Jelaanya

Intelektual arfak ini berpendapat bahwa praktek money politik jika terus dibiarkan tumbuh dan berkembang, akan berdampak pada pelaksanaan pilkada secara berkesinambungan.

Praktek curang seperti ini akan sulit dihilangkan, bahkan Daud percaya jika hal ini akan terus melekat dan menyatu dengan budaya masyarakat setempat.

Oleh karena itu ia terus menekankan bahwa Bawaslu dan Gakkumdu harus benar-benar bertindak tegas agar ada efek jera bagi oknum nakal yang bermain politik uang.

“Yang saya takutkan ini, 5 tahun, 10 tahun kedepan, hanya orang-orang yang punya uang yang bisa jadi pemimpin. Yang punya kualitas tapi tidak punya uang justru kalah dengan yang punya finansial tapi tidak punya kualitas. Itu yang nanti akan terjadi,”Keluhnya. [TIM/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *