Ruas Jalan Mameh – Windesi – Werabur Butuh Perhatian

MANOKWARI, gardapapua.com — Meski telah terhubung namun Ruas jalan Mameh – Windesi – Werabur menuju Wasior hingga ke Nabire dan sebaliknya juga dapat menghubungkan jalan ke Teluk Bintuni dan Kota Manokwari, hingga kini mengalami kerusakan. Kondisi ini butuh perhatian dari Pemerintah.

Padahal ruas jalan ini merupakan bagian peningkatan Trans di Provinsi Papua Barat, guna mendukung perwujudan Nawa Cita Presiden Joko Widodo dalam membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan. Kehadiran jalan trans juga adalah untuk membuka keterisolasian wilayah, menurunkan tingkat kemahalan harga barang-barang dan mengurangi kesenjangan pembangunan.

Tentunya masyarakat harusnya sangat merasakan manfaat keberadaan Jalan Trans Papua dan Jalan Perbatasan Papua. Meskipun kendaraan yang melintas masih sedikit, namun penduduk yang sebelumnya berjalan kaki melalui medan yang sulit dan memakan waktu lama, mestinya dengan hadirnya alternatif ruas jalur – jalur tersebut dapat lebih mudah dilewati dan memangkas waktu perjalanan, bila menggunakan kendaraan bermotor roda dua ataupun roda empat.

Ditempuh dengan jarak waktu sekitar 4 – 7 jam dari kota bintuni, pada jumat (3/7/2020), benar saja, terpantau saat pada Km. 14 – Km 25, mameh – windesi, usai melewati setidaknya 3 perkampungan, salah satunya kampung kaprush, masyarakat yang hendak melintas ruas jalan ini ada yang terpaksa berbalik arah, terlebih saat adanya kendaraan jenis truck bermuatan kayu yang kandas menutupi badan jalan berlumpur hitam tersebut.

“Memang kondisi jalan ini struktur tanah hitam, jadi sangat berlumpur sepanjang sekira 10 Kilometer,”Ujar Septinus salah satu warga setempat dalam bincang – bincang singkat.

Sementara itu, kepada gardapapua.com, sabtu (4/2020) Masyarakat Adat Teluk Wondama dan juga selaku Ketua DAP Wilayah Wondama Adrian Worengga dimintai tanggapannya membenarkan, akibat kondisi jalan yang rusak tak dipungkiri membuat pengendara yang melintasi ruas jalan tersebut harus hati-hati. Bahkan kendaraan roda empat yang melintas harus dengan bergantian. Pasalnya, kondisi jalan berlumpur dan licin membuat warga yang mengendarai kendaraan harus ekstra kerja keras.

” Kami berharap pemerintah bisa segera melakukan pengaspalan atau melakukan pengerasan jalan dan menimbun batu begitu,”Ungkapnya.

Dia lalu berharap agar kondisi ruas jalan ini dapat diperhatikan sama hal dengan ruas jalan Mameh – Tahota – Bintuni, agar dapat cepat dikerjakan bila memang pada ruas jalan ini sudah di anggarkan.

“Harap kami ruas jalan ini sangat perlu diperhatikan kembali hubungan transportasi jalan darat menuju Wondama ini kami harapkan pemerintah pusat sampai daerah harus memperhatikan supaya cepat dikerjakan,”Harapnya

” Sekarang saja banyak kendaraan yang lewat, padahal kondisi jalan ini rusak, kami harap instansi teknis juga bisa memperhatikan ruas jalan ini seperti halnya ruas jalan mameh -Tahota – Bintuni,”Tambahnya menerangkan.

Adapun Berdasarkan penelusuran LPSE.pu.go.id, diketahui benar bahwa lokasi ruas jalan di maksud tengah dalam proses tender dengan nama tender pembangunan jalan mameh – windesi (werabur) (umyc), yang terbagi dalam dua paket pengerjaan telah dilelangkan dan memasuki tahap pengumuman pemenang tender. Pengerjaan proyek ini diketahui dianggarkan melalui APBN tahun 2020, yaitu melalui kementerian PUPR Bina Marga, dan diawasi oleh BPJN Wilayah XIV Manokwari – Papua barat, yakni berdasarkan kode tender 63842064 dan pengawasan pembangunan jalan SP3 Mameh – Windesi (UMYC) dengan lokasi pekerjaan Kabupaten Teluk Wondama.

Adapun hingga berita ini ditayangkan, media ini masih akan dalam tahap proses konfirmasi lebih lanjut pada satker kementerian bina marga PUPR terkait. [TIM/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *