Dinkes PB Selaraskan Orientasi Pelaksanaan Imunisasi, POPM Filariasis/Cacingan Region II

MANOKWARI, gardapapua.com — Selaraskan komitmen dan capaian kinerja implementasi program pelayanan kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Provinsi Papua Barat menggelar pertemuan orientasi pelaksanaan imunisasi rutin tingkat Kabupaten/Kota Regional II Wilayah Manokwari dan Sosialisasi dan koordinasi pelaksanaan POPM Filariasis/Cacingan Region Manokwari.

Kegiatan yang resmi dibuka Kepala Dinas Kesehatan Otto Parorrongan, SKM, M.M.Kes diwakili oleh Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (Bid SDK Dinkes) Papua Barat Petrus Hosyo, S. Sos, bertempat di Ballroom Aston Niu Hotel Manokwari, Senin (11/3/2019) tersebut, di hadiri ratusan peserta berasal dari tenaga kesehatan tingkat Pustu, Puskesmas, serta para tim kesehatan dinas baik dari Kabupaten Mansel, Pegaf dan Manokwari.

Diawali dengan pemaparan laporan Panitia dari masing – masing penyelenggara kegiatan yakni Welly Wamaer,SKM selaku Kepala Seksi Surveilens & Imunisasi serta ketua panitia pelaksana penanggung jawab program POPM Filariasis/Cacingan Region Manokwari dr. I. Ramandey, seraya turut meminta dukungan seluruh masyarakat Papua Barat menyukseskan program Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis/cacingan 2019 Tahun ini.

Mewakili Kepala Dinas Kesehatan, Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (Bid SDK Dinkes) Papua Barat Petrus Hosyo, S. Sos, saat memberi arahan sambutan mengatakan, pelaksanaan POPM Filariasis/ Cacingan dan Pelaksanaan Imunisasi rutin tahun ini diharapkan bisa capai lebih dari 80 – 90 persen.

” Kegaiatan ini sangat baik kita lakukan karena melalui kegiatan inilah kita dapat memonitor sejauh mana langkah penerapan keberhasilan program program kerja kesehatan,”Ujar Kabid SDK Dinkes Petrus Hosyo, S. Sos.

Seperti contoh penerapan program imunisasi, sangat di rutin perlu dievaluasi mengingat masih ditemukannnya kasus polio terjadi di Tanah Papua. Selain itu, POPM cacingan dapat dilaksanakan secara terintegrasi dengan program POPM Filariasis, penjaringan anak sekolah, usaha kesehatan sekolah, pemberian vitamin A di posyandu, Pemberian Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMT-AS) serta program kesehatan lainnya.

Kegiatan POPM cacingan harus diikuti dengan kegiatan penyuluhan tentang hidup bersih dan memperbaiki sanitasi lingkungan di wilayah tersebut. Mengingat penularan cacingan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor maka diperlukan upaya dan peran seluruh pihak baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, lintas program dan lintas sektor dalam penanggulangannya sesuai tugas dan fungsi masing-masing dalam mendukung tercapainya target penurunan prevalensi cacingan.

” Padahal Indonesia di Tahun 2014 telah menyandang dan mendapat sertifikasi sebagai negara di bagian asia yang bebas Polio. Namun sesuai temuan kasus virus polio pada november 2018 lalu di daerah Yahukimo, Provinsi Papua, ini menjadi catatan penting dan instruksi langsung agar bagaimana kita di Tanah Papua ini dapat mengamankan dan menuntaskan temuan kasus – kasus virus polio itu,”Imbuhnya

Dimana mulai dari usia anak 0 – 15 tahun, wajib menjadi perhatian sasaran implementasi program Imunisasi, POPM Filariasis/Cacingan. Sehingga, segala persiapan untuk menyambut bulan polio yang mana pelaksanaannya akan di gelar menjadi dua tahap atau periode ini dapat dimaksimalkan implementasi pengerjaannya.

” Meski luas dan besar wilayah kerja ditanah Papua khususnya wilayah Papua barat, harus kita bebaskan dari virus Polio,”Tandasnya. [ian]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *