Gelar Sosialisasi di Kaimana, Disarpus Papua Barat Ingatkan Generasi Muda Jaga Manuskrip Jembatan Pengetahuan Lintas Generasi
KAIMANA, gardapapua.com — Pemerintah Provinsi Papua Barat melalui Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Disarpus) melaksanakan Sosialisasi Kebijakan Bidang Perpustakaan Tingkat Provinsi Tahun 2026 di Kabupaten Kaimana, dengan pesan kuat kepada generasi muda tentang pentingnya menjaga warisan tertulis.
Kegiatan yang mengusung tema : “Mengenal, Menjaga, dan Melestarikan Manuskrip/Naskah Kuno sebagai Warisan Pengetahuan dan Budaya Papua Barat” tersebut digelar pada Kamis (24/9/2026) di Kaimana.
Penanggung jawab kegiatan, Kepala Bidang Deposit, Pengembangan Koleksi, Layanan dan Pelestarian Disarpus Papua Barat, Maria Cornelia Momot, SH.,M.Si., saat membacakan sambutan Gubernur Papua Barat menegaskan, terkait esensi dari pelestarian manuskrip.
“Generasi muda perlu mengetahui bahwa pengetahuan tidak hanya terdapat dalam buku-buku yang baru diterbitkan. Sebagian pengetahuan juga tersimpan dalam warisan tertulis yang diwariskan oleh generasi sebelumnya. Karena itu, melestarikan manuskrip berarti menjaga jembatan pengetahuan antara generasi masa lalu, generasi sekarang, dan generasi yang akan datang,”Ujar Maria Momot, mengutip sambutan Gubernur.
Ia menambahkan, pelestarian manuskrip atau naskah kuno harus menjadi bagian dari upaya membangun generasi muda Papua Barat yang mengenal sejarah dan budayanya.
“Saya berharap hasil dokumentasi dan digitalisasi nantinya dapat dimanfaatkan secara bijaksana untuk pendidikan, penelitian, literasi, pengembangan kebudayaan dan penguatan identitas masyarakat, dengan tetap memperhatikan hak pemilik dan ketentuan akses terhadap naskah,”Ungkapnya.
Maria menjelaskan, manuskrip atau naskah kuno merupakan salah satu sumber pengetahuan yang memiliki nilai penting bagi sejarah, budaya, bahasa, kehidupan sosial, serta identitas masyarakat. Naskah yang diwariskan dari generasi ke generasi dapat memuat berbagai informasi mengenai kehidupan masyarakat, adat istiadat, pengetahuan lokal, sejarah, keagamaan, bahasa, maupun kearifan tradisional.

Di Provinsi Papua Barat, keberadaan manuskrip yang kemungkinan masih tersimpan pada keluarga, masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, komunitas, maupun lembaga tertentu perlu mendapatkan perhatian serius.
Permasalahan yang dihadapi saat ini antara lain belum optimalnya informasi mengenai keberadaan manuskrip, belum tersedianya data awal yang terintegrasi, keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai tata cara penyimpanan dan perawatan, serta perlunya peningkatan kapasitas sumber daya manusia dalam pendataan, dokumentasi, pelestarian dan digitalisasi.
Oleh karena itu, Disarpus Papua Barat memandang sosialisasi ini sebagai langkah awal untuk membangun pemahaman dan jejaring antara Pemerintah Provinsi, Pemerintah Kabupaten, Perpustakaan Nasional RI, perguruan tinggi, masyarakat adat, pemilik naskah, komunitas literasi dan pemangku kepentingan lainnya.
Adapun sasaran kegiatan meliputi jajaran Pemerintah Kabupaten, perangkat daerah terkait, pengelola perpustakaan, pustakawan, akademisi, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, budayawan dan pemerhati sejarah, serta komunitas literasi.
[FY/RED]
