Soroti Kasus Kekerasan di SMA Taruna Kasuari, Fraksi Otsus DPRD PB Desak Pihak Sekolah Bertanggungjawab
MANOKWARI, gardapapua.com — Kasus kekerasan di lingkungan pendidikan yang terjadi di lingkungan sekolah berpola asrama yakni di SMA Taruna Kasuari Manokwari, Papua Barat, menyita perhatian publik.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peringatan serius bagi dunia pendidikan di wilayah Bumi Kasuari, provinsi Papua Barat.
Salah satunya sorotan serius ini dilontarkan Fraksi Otonomi Khusus DPR Papua Barat, yang disampaikan langsung oleh Ketua Fraksi Otonomi Khusus DPR Papua Barat, Mudasir Bogra.
Kata Mudasir, tempat pendidikan harus menjadi sarana mencerdaskan kehidupan bangsa. Sehingga sangat miris jika sekolah ataupun kampus diwarnai praktik-praktik yang bertentangan dengan nilai dasar pendidikan.
Sebagaimana insiden peristiwa perkelahian antara senior dan junior dikalangan pendidikan, yang diduga melibatkan siswa kelas XI terhadap siswa kelas X di lingkungan asrama SMA Taruna Kasuari pada malam 22 April 2026, hingga menyebabkan sejumlah korban mengalami luka dan harus mendapat perawatan medis, menjadi peringatan tegas untuk pihak sekolah harus bertanggung jawab penuh.
Ketua Fraksi Otonomi Khusus DPR Papua Barat, Mudasir Bogra, mengatakan pihaknya telah menerima pengaduan resmi dari orang tua siswa terkait peristiwa tersebut.
“Ada orang tua siswa yang datang mengadu kepada kami, meminta agar pihak sekolah dan pemerintah, khususnya Dinas Pendidikan Provinsi Papua Barat, dapat mencari jalan yang arif dan bijaksana agar tidak merusak masa depan anak-anak mereka, terutama siswa kelas XI dan XII yang terlibat,”Ucap Bogra, pada Minggu (26/4/2026).
Ia menilai, praktik kekerasan tersebut berkaitan dengan pola lama dalam kegiatan masa orientasi siswa – siswi yang masih diterapkan di sekolah, sehingga perlu dievaluasi secara menyeluruh.
“Kasus seperti ini kerap terjadi di sekolah berstandar semi-militer. Ini praktik lama yang berulang setiap tahun dari senior kepada junior. Karena itu, pihak sekolah harus bertanggung jawab penuh, baik kepala sekolah maupun komite sekolah. Jangan seluruh kesalahan dibebankan kepada siswa,”Katanya.
Bogra menegaskan, Fraksi Otsus mengecam segala bentuk kekerasan di lingkungan pendidikan, termasuk yang terjadi di SMA Taruna Kasuari. Namun, ia juga mengingatkan agar penanganan kasus tetap mempertimbangkan masa depan para siswa.
“Jangan sampai kesalahan dalam pengambilan keputusan justru menghancurkan masa depan mereka, terutama yang sudah berada di kelas XI dan XII,”Jelasnya.
Ia juga meminta Kepolisian Resor Kota (Polresta) Manokwari mengedepankan pendekatan humanis dan pembinaan dalam menangani kasus tersebut, dengan melibatkan berbagai pihak terkait.
“Kami berharap Polresta Manokwari mengutamakan pendekatan humanis, melibatkan komisi perlindungan anak, orang tua pelaku dan korban, untuk mencari solusi bersama melalui mekanisme restorative justice,”Terangnya.
Menurut dia, penyelesaian secara kekeluargaan penting dilakukan agar semua pihak dapat duduk bersama dan mencari jalan keluar terbaik.
“Ini adalah anak-anak kita, masa depan Papua Barat. Kami berharap peristiwa ini menjadi bahan evaluasi bersama untuk perbaikan sistem pendidikan, khususnya di SMA Taruna Kasuari, agar ke depan menjadi lebih baik,”Tukasnya. [JM/RED]
