Ini Salah Satu Penyebab Terjadinya Antrian BBM di SPBU Krooy – Kaimana

KAIMANA, gardapapua.com — Antrian panjang yang kerap terjadi di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) yang berada area Krooy, Kaimana, Papua Barat ternyata ada penyebabnya.

Penyebabnya pun tak lazim. Dimana pada hari tertentu yakni Rabu dan Sabtu, menjadi kebijakan Pemerintah Daerah untuk pelayanan jerigen kepada masyarakat, yang diduga disalahgunakan oleh para oknum penampung BBM. Padahal cukup normal pelayanan disetiap hari kerja yakni senin, selasa, kamis dan jumat pada SPBU di maksud.

Hal ini pula, diperkuat dari penelusuran dan pemantauan wartawan di lapangan (SPBU Krooy). Panjangannya antrian kendaraan roda empat (mobil,red) disebabkan, adanya sejumlah mobil yang melakukan pengisian minyak jenis Pertalite hingga 200 Liter.

Ini marak ditemui pada tangki mobil jenis Avansa, Inova, TS 120, Pick up dan juga pada jerigen yang telah disiapkan dalam kemdaraan – kendaraan beberapa mobil lainnya, yang atas dugaan dilapangan dimanfaatkan untuk kemudian diperdagangkan kembali oleh sejumlah oknum pedagang bensin.

Mirisnya, sebelum pintu pagar SPBU Krooy ini dibuka secara keseluruhan, justru para kendaraan tertentu terlebih dahulu di ijinkan masuk dan berada paling depan pompa pengisian secara berjejer, sementara mobil angkutan umum lainnya tidak diijinkan masuk sebelum ada pembongkaran 1 tanki Mobil dengan kapasitas muatan 8 KL atau 8.000. Liter, dan tetap berada diluar antrian sama halnya dengan kendaraan roda empat lainnya.

Para antrian kendaraan roda empat yang telah mengantri di depan pompa pengisian SPBU, setelah pengisian tidak langsung membayar, mereka di catat berapa jumlah liter dan berapa kali pengambilan jerigen, sementara pelayanan pertalite hanya dibatasi pengisiannya sampai pukul 12:00 WIT, dengan dalil kuota BBM tersebut juga tidak mencukupi sehingga ada kendaraan lain yang bisa saja tidak kebagian BBM dimaksud.

Tidak sampai disitu, akibat pengisian BBM yang atas dugaan dilakukan atas kerjasama dengan petugas SPBU ini, dan memanfaatkan kebijakan Pemerintah Daerah tersebut, saat ini para pengendara roda dua pun ikut mengantri BBM dengan membawa jerigen mulai dari 5 – 15 Liter, sama halnya dengan para supir angkot lainnya.

Beberapa kali hal inipun diadukan oleh kelompok atau organisasi supir angkot ke DPRD, namun lagi – lagi masih terus berjalan dan dilakukan sejumlah oknum nakal sampai dengan Tahun 2023 ini.

Ironisnya dalam pengantrian ini, ada juga aparat dari kepolisian yang menjaga dan mengawasi pengisian BBM, namun aksi dugaan pencurian BBM jenis pertalite ini berjalan mulus.

Salah satu warga saat mengantri yang dimintai tanggapannya berharap, agar kebijakan pemerintah daerah dapat dikaji kembali, agar semua pengendara bisa tetap mendapatkan kuota BBM dengan baik dan merata.

Selain itu, pengawasan dari instansi terkait baik dari pemerintah dan Pihak pengawas dari Pertamina yang konon katanya berkantor di Manokwari Papua Barat terkait akan ini juga dipertanyakan.

“Kami harap ini bisa diperhatikan, kasian kita datang su antri lama tidak dapat bensin,”Papar Yosep.

Sebelumnya juga, Sopir angkutan kota (Angkot) di Kaimana telah meminta kepada aparat kepolisian setempat, untuk dapat menertibkan antrean jirigen di SPBU Kaimana. Keluhan para sopir angkot disampaikan saat pertemuan bersama, pihak Dinas Perhubungan (Dishub) Kaimana membahas penyetaraan tarif angkutan, belum lama ini jelang akhir tahun 2022, kemarin.

Menurut mereka antrean jirigen di SPBU telah dilarang pemerintah pusat. Akibat banyak antrean jirigen, mereka mengeklaim kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi jenis pertalite di SPBU Kaimana. [TIM/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *