Masyarakat di Distrik Manekar Tambrauw, Menanti Pemerintah Buka Isolasi Jalan

FEF, gardapapua.com — Masyarakat di sekitar 6 Kampung didistrik Manekar, Kabupaten Tambrauw, disebutkan sangat menantikan perhatian pemerintah daerah untuk membuka isolasi jalan bagi Masyarakat yang selama ini terisolir diwilayah tersebut.

Demikian hal tersebut diungkapkan Wakil ketua II DPRD Kabupaten Tambrauw Yosep Airai, kepada gardapapua.com, pada Sabtu (15/10/2022), saat diwawancarai.

Menurutnya, bahwa Akses menuju wilayah perkampungan tersebut masih sulit karena terisolir, sehingga diharapkan pemerintah pusat, provinsi, dan Pemkab Tambrauw dapat membuka keterisoliran tersebut.

Sebab dengan adanya Pembangunan infrastruktur jalan tersebut bertujuan untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah, membuka akses daerah terisolir, juga sebagai bentuk pemerataan hasil pembangunan.

“Saya berkunjung ke kampung atai ibu kota distrik manekar, guna melihat langsung kondisi masyarakat di 6 kmpng distrik manekar yg terletak di kampng atai. Saya lihat semangat masyarakat untuk membangun di daerah pegunungan memang sangat pesat. Namun hal yang menghambat pembangunan adalah infrastruktur jalan dari kebar menuju manekar, serta dari kebar selatan menuju manekar belum terperhatikan. Saya sebagai wakil rakyat akan mengawal hal ini dan terus bersuara,”Tegas Yosep Airai.

Menurutnya, Masyarakat setempat sangat mengharapkan perhatian serius dari pemerintah daerah (Pemda) Tambrauw maupun pemerintah provinsi Papua barat untuk segera membantu membantu membuka ruang akses jalan menuju ke ibu kota distrik manekar di kampung atai.

“Mereka sangat mengaharapkan pembangunan infrastruktur jalan yang memadai. Sehingga saran saya bagi Pemda tambrauw agar menganggarkan segera guna dapat melanjutkan pekerjaan jalan dari kebar ke atai maupun dari kebar selatan ke ibu kota distrik manekar,”Imbuhnya

Yosep menyebutkan, dirinya melihat secara kasat mata kondisi itu, serta semangat masyarakat yang terus ada meski dalam keterbatasan tetap ikut terlibat membangun perumahan rakyat maupun rumah ibadah di ibu kota distrik manekar yang selama ini masyarakat menggunakan sumber dana desa dalam pembangunan.

“Jadi bayangkan kalau tidak didukung akses jalan, Masyarakat disini untuk Carter Helikopter ke ibu kota distrik itu bisa habiskan biaya yang fantastis. 1 flight Rp.30Jt, total muatan 700 kh. Jika menggunakan heli jenis besar seperti puma maka total biaya berkisar Rp.190 Jt/Flight, dan total muatan 4 Ton,”Beber Yosep Airai.

Terkait akan ini, Yosep lalu berkomitmen akan mengawal aspirasi Masyarakat diwilayah tersebut, guna sebuah kepastian pemerataan pembangunan dan membuka akses diwilayah – wilayah yang tergolong terisolir. [FR/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *