Tak Ada Listrik dan Sejumlah Anak OAP Tidak Berkesempatan Bersekolah di Dusun Mihij – Manokwari

MANOKWARI, gardapapua.com — Mananwir Paul Finsen Mayor, S.IP, angkat bicara atasnama Masyarakat Adat Papua di wilayah Doberay/Papua Barat.

Berdasarkan siaran pers diterima redaksi ini pada Jumat (23/9/2022), dirinya merasa sangat prihatin dengan kondisi Masyarakat Adat di Dusun Mihij, Kampung Desay, Distrik Prafi Kabupaten Manokwari, yang diketahui berdasarkan temuannya selama kurang lebih 22 tahun sulit mendapatkan pelayanan listrik dan bahkan sejumlah anak – anak mereka belum mampu mengenyam bangku pendidikan sekolah.

“Keprihatinan kami karena sejak Otsus Papua diberlakukan sejak Tahun 2001 sampai dengan saat ini sudah mencapai 20-an Tahun. Namun, masih ada Anak-anak Generasi muda Orang Asli Papua ( OAP) yang tidak bisa mengenyam pendidikan di PAUD, sekolah dasar Maupun Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama ( SLTP) hal ini karena tidak ada fasilitas umum yang dapat digunakan sebagai tempat dan penunjang keseharian Masyarakat Adat disana,”Ujar Mananwir Paul Finsen Mayor, S.IP.

Padahal menurutnya, bahwa disusun Mihij, Kampung Desay Distrik Prafi Kabupaten Manokwari ini dihuni oleh Masyarakat Adat Papua dari Suku Besar Arfak.

“Keprihatinan kami karena generasi muda Orang Asli Papua ini apabila tidak disentuh dengan pendidikan, maka bagaimana kehidupan mereka kedepannya? Selain itu, ini kami ketahui dari beberapa warga masyarakat baik dari perkumpulan warga Nusantara yang tinggal bersama-sama di kampung Desay kemudian menghubungi Dewan Adat Wilayah III Doberay Papua Barat sebagai Rumah Besar Masyarakat Adat Papua Wilayah III Doberay Papua Barat untuk turun dan melihat langsung kondisi hidup Masyarakat Adat Papua disana yang sehari-hari seperti itu,”Bebernya

“Bahkan ada salah satu anak yang berusaha keras untuk menempuh pendidikan Sekolah Dasar lalu melanjutkan ke Pendidikan Menengah Pertama atau SMP/ SLTP namun, kemudian terpaksa harus membantu mamanya jualan di pasar Karena tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah menengah pertama ( SMP). Salah satu anak asli Papua ini punya keinginan kuat untuk sekolah di SMP hanya tidak ada biaya untuk sekolah. Anak dari Mama Selly Sayori,”Sambungnya

Adapun di dusun Mihij Kampung Desay Distrik Prafi ini sama sekali tidak ada Listrik, juga air Bersih serta fasilitas Pendidikan, maupun fasilitas umum seperti jalan raya pun tidaklah ada.

“Hanya ada jalan tikus kecil dari depan jalan ke dalam dusun tempat masyarakat adat Papua ini bermukim. Apakah ini yang dinamakan Sebagai keberhasilan Otsus Papua? 20 tahun Otsus diberlakukan sejak Tahun 2001 sampai saat ini, hasilnya seperti ini..?,”Keluh Mananwir

Terkait itu, pihaknya mendesak Pemerintah Kabupaten Manokwari agar segera turun dan melihat langsung kondisi hidup Masyarakat Adat Papua di Dusun Mihij Kampung Desay Distrik Prafi Kabupaten Manokwari.

” Juga kepada Anggota DPRD Kabupaten Manokwari agar segera turun kesana. sebagai wakil rakyat harus wajib melihat langsung kondisi hidup Masyarakat Adat Papua di wilayah ini. Sangat prihatin dan menyakiti hati nurani orang asli Papua ketika melihat saudara kita sendiri masih dalam kondisi seperti itu. Sebab, disana kalau ada satu rumah itu dihuni oleh sekita 4 -5 kepala keluarga didalam rumah itu. Tidak ada lampu, karena memang tidak ada Listrik,”Paparnya

Sembari menambahkan, bahwa kondisi Masyarakat adat disana hanya hidup dari hasil kebun yang dijual dipasar.

“Masih banyak anak-anak asli Papua yang diusianya yang belia atau anak-anak namun tidak sekolah, miris dan menyedihkan. Semoga ada Anak anak Tuhan yang tergerak hari untuk membantu anak-anak asli Papua disana untuk dapat bersekolah dan mewujudkan masa depannya,”Harapnya

Sesuai dengan Tema Dewan Adat Papua yakni selamatkan Manusia Papua, menurut Mananwir Paul, pihaknya akan selalu menjadi Penyambung lidah Masyarakat Adat Papua agar mereka mendapatkan kehidupan yang layak dan hidup sesuai dengan tatanan kehidupan yang baik dan benar.

“Besar harapan kami untuk Bapak Bupati kabupaten Manokwari sebagai anak adat Papua dari suku Besar Arfak bisa turun langsung dan meninjau lokasi yang sangat memprihatinkan ini. Apalagi Manokwari ini Ibukota Provinsi Papua Barat, kok masih ada yah, Orang Asli Papua yang tidak menikmati pembangunan dan fasilitas Pemerintah Kabupaten maupun Provinsi Papua Barat ini, sangat disayangkan dengan situasi ini,”Jelasnya. [Tim/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *