Doberay Nilai Reses MRPB Selama Ini Belum Ada “Hasil”

MANOKWARI, gardapapua.com — Ketua DAP Wil. III Doberay, Mananwir Paul Finsen Mayor, S.IP menegaskan bahwa dirinya banyak menerima masukan dan kritikan dari Tokoh Pemuda, Tokoh Adat dan tokoh masyarakatdan juga Tokoh Intelektual.

Tentunya, itu terkait harapan dan aspirasi masyarakat adat yang ingin terkawal dan direalisasikan maksud dan pencampaiannya.

Apalagi, akhir – akhir ini kerap beberapa kali telah dilakukan kunjungan reses dari kelembagaan kultur adat MRPB, namun seyogianya, sampai saat ini apa yang sudah dikerjakan dari hasil reses atau jaringan aspirasi masyarakat adat dinilai belum ada hasil yang baik pencampaian pelaksanaannya ditengah masyarakat.

” Hal itu baik, kami pandang baik untuk Majelis Rakyat Papua Barat bisa berbenah diri. Atas nama Masyarakat Adat Papua wilayah III Doberay, kami minta semua hasil reses selama ini dipublikasikan ke publik agar kami tahu apa saja yang sudah dikerjakan dari hasil resen atau jaringan aspirasi masyarakat adat Papua itu,”Ujar Ketua DAP Wil. III Doberay, Mananwir Paul Finsen Mayor, S.IP, melalui siaran persnya, Jumat (19/6/2020).

Sebab selama ini, menurut masyarakat adat belum ada “Hasil” dari proses reses dan jaring aspirasi itu. oleh sebab itu diharapkan kepada anggota Majelis rakyat untuk bisa turun langsung ketemu masyarakat adat dan bukan hanya kalau reses mengundang orang-orang tertentu.

“Tetapi, harus mengundang masyarakat adat sebab menurut kami, biaya reses sangat besar jumlahnya kenapa tidak bisa untuk mengundang sebanyak mungkin Masyarakat adat Papua? agar dapat mendengar dan lihat langsung penderitaan masyarakat adat papua,”Jelasnya

“Kami mendesak MRPB harus benar-benar kerja, benar-benar turun ke masyarakat dan benar-benar menindaklanjuti hasil-hasil reses dan atau jaring aspirasi masyarakat adat papua itu,”Lanjutnya Menjelaskan

Selain itu, diminta setiap Anggota MRPB harus sendiri turun ke masyarakat agar bisa benar-benar mendengar aspirasi masyarakat adat dengan serius.

“Jangan cuma bawa staff terlalu banyak atau turun berkelompok, tapi kalau turun sendiri dan dengar langsung aspirasi masyarakat adat Papua, dan mampu mengimplementasikannya itu jauh lebih baik,”Tandasnya. [Rls/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *