Begini Ungkapan Tokoh Adat dan Kepala Suku Biak Menyikapi COVID19

MANOKWARI, gardapapua.com — Peran Masyarakat Adat dalam memerangi penyebaran virus corona (covid-19), juga dibutuhkan, selain pola skema kebijakan yang telah diterapkan oleh Pemerintah, baik pada tingkat Pusat, Provinsi maupun di Daerah.

Terkait akan itu, saat dijumpai oleh para awak media, selaku tokoh adat dan kepala suku Biak di Manokwari, Petrus Makbon misalnya, turut menyikapi baik segala upaya – upaya yang telah dilaksanakan oleh pemerintah.

Ditemui, dikediamannya, pada Jumat (1/5/2020) kemarin, Petrus Makbon mengungkapkan, bahwa semua pihak tentunya harus serius menangani virus ini.

” Saya juga selaku kepala suku biak tidak hentinya menghimbau dan menyampaikan kepada khususnya keluarga besar biak di manokwari untuk mari kita bersama patuhi aturan sebagaimana yang sudah ditetapkan oleh pemerintah,”Ujar Petrus Makbon

Dimana, dalam upaya bersama masyarakat adat, dia menuturkan sudah sepatutnya langkah – langkah pencegahan yang telah disarankan oleh pemerintah, sebagai masyarakat adat tentulah harus dipatuhi dengan menerapkan pola tersebut sebagai upaya pencegahan bersama dalam kehidupan sehari – hari dan bersosial lingkungan.

” Hal tersebut seperti menggunakan alat pelindung diri masker saat keluar rumah, menerapkan sosial distancing saat berjumpa dengan orang lain, dan menerapkan pola hidup sehat dan bersih dengan mencuci tangan misalnya sebelum menyentuh makanan dan seaudahnya,”Paparnya

Meski demikian, himbauan secara kultural budaya dari segi umum masyarakat adat yang mendiami wilayah timur papua, khususnya daerah Biak yang terkenal dengan suhu wilayah cuaca yang panas, Petrus meyakini bahwa Sinar Matahari dan Air Laut dipercayai memiliki manfaat kesehatan yang baik, untuk meningkatkan imun kekebalan tubuh.

“Kita kalau orang biak sendiri punya keyakinan bahwa kita orang wilayah timur papua khususnya di biak memiliki pola struktur cuaca yang terbilang cukup panas, itu mungkin yang sementara meyakini kita, sehingga virus ini pasti tidak bisa menyerang secara meluas, namun tentu kita tetap waspada,”Paparnya

” Sehingga dari segi kebiasaan biasa kita himbaukan kepada masyarakat kita juga untuk mungkin rutin berolahraga diluar rumah dan terpapar sinar matahari secara teratur, karena kita percaya sinar matahari punya manfaat, dan selain itu mungkin berenang dilaut. Selain tetap kita menerapkan pola hidup sehat, pasti kita bisa terhindar dari penyebaran virus ini yang memang menyerang saluran pernapasan manusia,”Ungkapnya

Sementara itu, berbeda dengan Petrus Makbon yang dalam upaya masyarakat adat mendukung penuh peran pemerintah soal penerapan hidup sehat (sosial distancing), Tonni Urbon, selaku Ketua Dewan Adat Papua Wilayah Teluk Bintuni, dan juga selaku perwakilan anak adat 7 suku Bintuni mempunyai sedikit tanggapan yang lebih jika masyarakat adat diminta bersama lebih bersinergi memerangi wabah virus corona (Covid19) ini.

” Jadi kalau kita mau duduk bicara untuk saling menyalahkan ini tidak benar, namun kita bersama kembali harus terus mendukung pola pemerintah yang sudah ada, namun pihak pemerintah jangan sampai sebatas himbauan saja namun harus melalukan aksi terukur dan nyata menyentuh masyarakat,”Ucapnya

Seperti, jika trend masyarakat dan pemerintah mau menerapkan pola pembatasan aktivitas di setiap daerah, maka bila berkaitan dengan ukuran suatu wilayah adat, pemerintah harus berani membuat sebuah program tepat sasaran, supaya menyentuh kalangan masyarakat secara merata.

” Masyarakat adat itu ada di skop lingkup kabupaten, ada ditiap distrik, ada di kampung. Jadi kalau negara dan pemerintah provinsi sampai pusat, kalau mau bersama melibatkan masyarakat ada secara kultural maka haruslah ada sebuah program tepat sasaran, supaya menyentuh kalangan masyarakat secara merata,”Sebutnya

Secara merata yang dimaksudkan adalah, jikalau pemerintah sudah bergerak secara sistematis berdasarkan aturan dan kebijakan positifnya, maka, pemerintah diminta untuk juga dapat menerapkan langkah kebijakan lain dan dilaksanakan sesuai kultur budaya suku – suku yang mendiami wilayah adat di tanah papua, khususnya di wilayah adat doberay, provinsi papua barat. Sehingga kalau berbicara melibatkan adat maka kebijakan jaminan harus bisa diberikan pemerintah secara baik. Sebab, sangat memungkinkan terjadinya perubahan gerakan pertumbuhan ketahanan pangan, jika pemerintah tidak serius menyikapinya.

” Masyarakat mungkin bisa berkebun kita bangkitkan pangan lokal, tapi apakah dalam satu – dua bulan itu langsung bisa menghasilkan atau kita bisa panen? Setidaknya itu tiga bulan baru bisa panen, kira – kira pemerintah bisa mendukung tidak memenuhi ketahanan pangan subsidi selama itu?,”Sebutnya

Secara kultur budaya, menurut Urbon hal ini adalah wabah. Namun demikian, disamping penerapan langkah kebijakan pemerintah yang telah membagikan sembako dan himbauan penerapan pola hidup sehat, serta sosial distancing atau sikap menjaga jarak aman dengan orang lain agar terhindar dari virus Corona, maka kestabilan menjaga ketahanan pangan harus tetap terjaga, dan menghimbau kepada masyarakat untuk mulai berkebun atau menguatkan pangan lokal.

” Jadi harapan saya, peran pemerintah bersama tokoh – tokoh masyarakat kita bersama putuskan bersama lewat adat dengan menerapkan ketahanan pangan dan mendukung peningkatan budaya lokal dari sisi ketahanan pangan, selain penerapan pola hidup sehat atau sosial distancing itu,”Tukasnya. [TIM/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *