Tiga Titik Dijalur Tahota – Mameh, Jadi Momok Bagi Para Supir

TELUK BINTUNI, gardapapua.com — Gunung Pasir, Tanah Hitam dan Kolam Bebek, Mameh, Distrik Tahota, Kabupaten Manokwari Selatan (Mansel), hingga kini masih menjadi momok bagi para supir atau pengendara kendaraan jalur lintas kabupaten trans Papua Barat.

Hal itu didapati langsung oleh para wartawan media online, cetak, dan elektronik (Televisi,red) saat menyusuri kembali di ruas jalan trans papua barat tersebut pada, Sabtu (15/6/2019) malam.

Sekilas, terpantau ada sekira 28 kendaraan dobol gardan 4WD, dan 12 truk atau total 40 kendaraan yang saat itu tertahan di gunung pasir, lebih dari 10 jam lamanya dan saling gotong royong melakukan aksi tarik menarik dengan tali tambang, agar kendaraannya dapat melintas dan keluar dari lumpur tahota – Mameh ini.

Gunung pasir, tanah hitam, kolam bebek, itulah julukan bagi para supir trans papua barat, dan merupakan ruas jalan yang tidak dilupakan mereka para supir, hingga para warga yang kerap melintas dan menggunakan akses jalan ini baik dari Manokwari – Mansel – Bintuni, dsn sebaliknya.

Bagi supir yang sering melewati jalur didaerah itu, pasti tidak kaget dengan kondisi jalan tersebut, pasalnya mereka seakan-akan sudah mengetahui dengan pasti jalur yang akan mereka lewati, namun bagi supir yang masih ragu, mereka akan berpikir panjang, karena sekali terjebak, akan sulit untuk keluar dari lumpur, dan akan mengganggu perjalanan pengguna jalan lainnya.

Namun ada faktor lain yang dihadapi oleh para supir, seperti, mobil yang sedang melintasi di area lumpur, tiba-tiba mati mesin atau mogok, dan ban mobil pecah atau bocor, hal inilah yang terkadang membuat perjalanan para supir menjadi terhambat.

Salah satu supir kepada para wartawan, Nathan mengatakan, kalau dirinya hanya datang dan menjemput penumpang dari manokwari dan hanya diturunkan di mameh.

“Saya ditelpon sama teman untuk menjemput wartawan di perbatasan, karena mobil tidak bisa tembus ke Bintuni,”Kata Nathan.

Nathan menambahkan, setiap supir yang melewati jalan di kampung mameh, pasti tau resikonya, sehingga mereka sering bekerja sama dan saling membantu apabila ada mobil yang terjebak.

“Kalau ada teman yang tertanam lumpur, pasti kami bantu tarik, dan itu sudah kamu lakukan sejak lama,”Tambah Nathan.

Sambil berkendara, Nathan menjelaskan bahwa, sesama supir tidak boleh egois, karena akan mempersulit diri sendiri, karena jika tidak ada yang membantu untuk menarik mobil yang terjebak, maka hal ini akan mengganggu semua pengguna jalan.

“Apalagi jika terjebak di kolam bebek, tanah hitam dan gunung pasir, (istilah supir dan warga), pasti terjadi antrian yang panjang, bahkan para penumpang dan supir dengan terpaksa harus bermalam.”jelasnya.

Apa yang dijelaskan oleh Nathan langsung dialami oleh para delapan (8) orang wartawan yang kala itu hendak melakukan liputan didaerah ini.

Pemamdangan yang tidak biasa bagi wartawan, ada sekira 28 kendaraan dobol gardan 4WD, dan 12 truk tertahan di lokasi itu.

“Semoga cepat selesai, kasihan warga, apalagi sudah ada korban jiwa.” tutup Nathan, sambil mengendarai mobil meninggalkan mameh dan bergerak ke arah Bintuni. [KK/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *