Aksi Wabup Kaimana Pikul Beras Untuk Anak Yatim, Bagai ‘The Khalifah’

KAIMANA, gardapapua.com — Aksi Wakil Bupati Kaimana, Hasbulla Furuada memberikan bantuan kepada warganya viral di media sosial. Sejumlah warganet menilai aksi yang dilakukan Hasbulla Furuada, Wakil Bupati Kaimana yang baru dilantik mendampingi Bupati Freddy Thie mirip kisah Khalifah Umar bin Khattab saat membantu seorang ibu yang memasak batu untuk mengelabui anak-anaknya yang tengah menahan lapar. Kisah ini ditulis oleh Abdul Latip Thalib dalam bukunya yang berjudul ‘The Khalifah’.

Ratusan like dan komentar positif para netizen di postingan itu, pun tak terelakkkan. Dimana dalam postingan akun halaman facebook (fanpage) Sobat Kaibus, Tampak beberapa foto Hasbulla Furuada memikul empat karung beras di atas punggungnya. Sebuah foto lain menunjukkan Hasbulla berpelukan dengan 1 orang dewasa dan 2 orang anak kecil.

Postingan Tentang Aksi Heroik Hasbulla Furuada di Media Sosial (FB)

Berdasarkan penelusuran, foto diambil saat Hasbulla berkunjung ke sebuah rumah di RT Brawijaya, Jalan Kaki Air Belakang, Kaimana Kota.

Rumah sederhana tersebut dihuni oleh enam bersaudara. Anak tertua bernama Tila Sirfefa. Mereka adalah anak yatim piatu yang sudah lama ditinggal kedua orang tuanya. Demi memenuhi kebutuhan sehari-hari, anak tertua harus menjadi tulang punggung keluarga.

Saat berkunjung ke rumah tersebut, Hasbulla Furuada langsung disambut pelukan hangat dan tangisan anak-anak tersebut. Ia sendiri tidak mampu membendung air matanya yang mulai membasahi pipi.

Setelah berpelukan dan berbincang, Hasbulla kemudian keluar dan kembali memikul empat karung beras untuk diberikan pada keluarga itu. Sebagai Wakil Bupati, Hasbulla bisa saja meminta asistennya untuk memikul beras itu. Akan tetapi, tanpa basa basi lagi, Hasbulla memilih untuk memikulnya sendiri.

Selain beras, Hasbulla juga memberi bantuan bahan makanan lain untuk keluarga tersebut, seperti mie instan, minyak goreng dan lain-lain.

Kisah Umar bin Khattab :

Oleh sejumlah pihak, aksi Hasbulla tersebut dianggap mirip dengan kisah Khalifah Umar bin Khattab dengan seorang ibu yang tengah memasak batu.

Dikisahkan, Umar sedang berjalan-jalan saat tengah malam bersama asistennya. Hal ini Ia lakukan untuk memastikan keamanan dan ketentraman masyarakat yang dipimpinnya. Namun, di tengah perjalanan Umar melihat sebuah gubuk. Dari dalam gubuk tersebut terdengar suara anak kecil menangis. Umar kemudian masuk ke dalam gubuk tersebut untuk memastikan keadaan di dalamnya.

Setelah berada di dalam gubuk itu, Umar pun tercengang sejenak. Ia mendapati seorang Ibu sedang memasak batu. “Wahai hamba Allah, kenapa engkau memasak batu di malam hari begini?”, tanya Umar kepada Ibu itu.

“Saya tidak memiliki bahan makanan untuk dimasak. Saya sengaja memasak batu agar anak-anak mengira Saya sedang memasak makanan untuk mereka. Dan Saya berharap mereka tertidur di tengah penantiannya pada masakan yang tidak akan pernah matang ini. Mereka sudah tiga hari tidak makan,” jawab ibu tersebut sambil berlinang air mata.

Mendengar jawaban Ibu itu, Umar merasa bersalah. Ia tidak menyangka di tengah masyarakat yang dipimpinnya, ada keluarga yang hidup dalam kelaparan.

Umar pun bergegas pulang dan mengambil sejumlah bahan makanan di Baitul Mal lalu memikulnya sendiri ke gubuk keluarga miskin tersebut. Setibanya di gubuk itu, Umar lalu memasak sebagian dari bahan makanan yang dibawanya dan disajikan untuk Ibu itu dan anak-anaknya. Umar bahkan menyuapi anak-anak tersebut satu per satu. [*/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *