Intelektual Muda Suku Maya Juga Angkat Bicara Tanggapi Hasil CPNS 2018 R4

WAISAI, gardapapua.com — Meski Hasil seleksi CPNS formasi tahun 2018 di lingkungan pemerintah kabupaten raja ampat, telah di umumkan seperti yang termuat pada laman website http://tiny.cc/cr4ozsz:, hal tersebut masih menuai berbagai pertanyaan dan mosi ketidakpercayaan akan hasil tersebut.

Beberapa tokoh masyarakat hingga LMA dan dewat adat di Kabupaten Raja Ampat masih terus menyoroti hal itu. Kali ini juga datang dari kaum intelektual muda suku maya, dan perwakilan suara perempuan papua muda yang melahirkan, pada minggu 18/10/2020.

Hal itu dilayangkan oleh Jhon Mentansan, mewakili kaum intelektual muda suku maya mengatakan, bahwa sebagai kaum muda dia
menduga hasil CPNS formasi 2018 ada sejumlah nama yang pengabdiannya bukan murni mau menetap di raja ampat, namun ditembuskan di raja ampat oleh oknum tertentu hingga diduga mengurangi peluang anak – anak negeri di raja ampat sebagai CPNS, atau berkarya untuk negerinya sendiri.

Sehingga sebagai pemuda raja ampat, Jhon mengharapkan, agar persoalan ini tolong dikaji dan dipertimbangkan kembali oleh pemerintah daerah kabupaten raja ampat.

Apalagi jika hal itu, Menpan RB sebelumnya sudah menginstruksikan bahwa menyangkut hasil seleksi CPNS menjadi kewenangan daerah, yang disesuaikan dengan amanah otsus 80 persen OAP dan 20 Non OAP.

“Berarti tidak ada alasan lain lagi, bahwa pengambil keputusan ada di tangan pemerintah daerah kabupaten raja ampat,”Ungkap Jhon Mentansan.

Kemudian ia juga menuturkan bahwa sebelumnya, Bupati Raja ampat AFU sebelum pelaksanaan cuti kampanye, juga telah menyampaikan bahwa kuota CPNS tetap 80 Persen Orang Asli papua dan 20 Persen Non Papua.

“Namun tidak seperti itu malah informasi yang kami terima kuota di maksud tidak mencapai target yang di tentukan berdasarkan UU Otsus 21 Tahun 2001. sehingga hal ini muncul pertanyaan balik dari kami bahwa Berarti penyampaian Bupati, kami menyimpulkan belum bisa menjawab kuota 80:20, ada apa dengan hal ini? Terlebih saat pengumumannya ada dugaan miss komunikasi antara PLT dan Sekda?,”Sebutnya

“Sehingga harapan kami kedepan pemda raja ampat tolong sikapi hal ini dengan baik terutama anak-anak asli raja ampat,diberikan peluang besar-besarnya untuk menempati posisi CPNS di negerinya sendiri,”Tambahnya.

Senada dengan Jhon, dan mewakili suara kaum muda perempuan Papua di raja ampat, Sara Kristina Elwod menyampaikan, bahwa tentang kuota CPNS formasi tahun 2018 ini, harusnya peluangnya diprioritaskan kepada anak-anak asli raja ampat yang mengabdi bertahun-tahun di bumi raja ampat ini.

“Namun kenyataanya lain,orang-orang yang datang dari luar 1/2 hari ikut tes bisa lolos, sementara orang asli raja ampat dikemanakan,”Keluhnya memaparkan.

“Tentu hal ini membuat kami perempuan raja ampat sangat sedih dengan hasil ini. Sehingga harapan kami kedepan,agar pemerintah kabupaten raja ampat, mengambil keputusan harus betul-betul berdasarkan UU Otsus Yang mana sudah di tetapkan menjadi 80:20,”Harapnya

“Jangan hanya bicara di media 80:20 tapi yang terjadi di lapangan lain, seperti hasil CPNS formasi 2018 yang mana tidak menjawab kuota 80 persen orang asli papua dan 20 persen kepada non papua,”Tambahnya

Selain itu ditambahkan bahwa hari ini, selaku perempuan intelektual muda suku maya yang juga bagian dari penerus generasi papua khususnya kabupaten raja ampat, melihat hasil ini mengaku hak menjadi tuan diatas negeri sendiri dan kesempatan itu di tempati orang bukan asli raja ampat yang tersebar di 24 distrik dan 117 kampung, diwilayah kabupaten raja ampat. [DM/RED]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *