Balitbangda PB Dorong Peningkatan Ekonomi OAP, dari Sektor Pariwisata di Raja Ampat

WAISAI, gardapapua.com — Pemerintah Provinsi Papua Barat, melalui Balitbangda menggelar seminar awal terkait Analisis dampak ekonomi dalam pengelolaan kawasan lindung dan pariwisata terhadap pendapatan orang asli papua (OAP) di Raja Ampat.

Kegiatan ini berlangsung di aula Bappeda Raja Ampat, selasa (23/7), menghadirkan sejumlah pihak dan mitra terkait dalam seminar awal Balitbangda Propinsi papua barat seperti, dari sisi akademisi, Prof. Dr. Ir. Roni Bawole,. M.Si (Unipa), Dr.Joni Marwa, S.hut,. M.Si (Unipa), Ir. ABD. Havid Fatamasya M.Si, Ferry Hurelean, SP,. Johanes Faidiban, BASF, Iwan Rumpombo ST, Kepala dinas Pariwisata Raja Ampat Yusdi Lamantengo S.Pi,.M.Si, Beserta jajarannya, dan sejumlah ASN dan Honorer Pemkab Raja Ampat.

Hal ini tentunya, berkaitan pada dampak sektor pariwisata terhadap perekonomian setiap daerah. Sehingga perlunya sinergitas Pemerintah Daerah dan Pemerintah Provinsi melalui badan mitra terkait mengidentifikasi dan menganalisis potensi wilayah terutama yang berbasis keunggulan lokal. Identifikasi potensi wilayah merupakan aktivitas mengenal, memahami dan merinci secara keseluruhan potensi (SDA & SDM).

Selain itu, Kegiatan tersebut bertujuan menganalisis perubahan kondisi ekonomi Orang Asli Papua (OAP) di kawasan Raja Ampat, Teluk Triton dan Pegunungan Arfak, serta menganalisa perubahan kondisi sosial budaya dikawasan Pemerintahan Kabupaten Raja Ampat.

Kepada para awak media, Kepala Badan Penyelenggara Pembangunan Daerah (Bappeda) Raja Ampat, Rahman Waeroy, mengatakan bahwa kegiatan Analisis Dampak Ekonomi Dalam Pengelolaan Kawasan Lindung dan Pariwisata terhadap Orang Asli Papua (OAP) ini difokuskan untuk merancang pembangunan di Raja Ampat terkait keterlibatan OAP dalam pembangunan Pariwisata.

“Kegiatan seminar awal Analisis Dampak Ekonomi Dalam Pengelolaan Kawasan Lindung dan Pariwisata terhadap Orang Asli Papua ini, kami fokuskan terhadap pembangunan daerah yang melibatkan OAP dalam arah pembangunan khususnya melalui eko wisata di Raja Ampat,” ujar Rahman Waeroy.

Dikatakan, melalui kegiatan seminar awal tersebut juga untuk merancang bagaimana keterlibatan Orang Asli Papua yang ada di Raja Ampat dalam pengelolaan Sumber Daya Alam yang ada di dalam kawasan lindung maupun yang ada di luar kawasan lindung.

Selain itu, kegiatan seminar awal Analisis Dampak Ekonomi Dalam Pengelolaan Kawasan Lindung dan Pariwisata terhadap Orang Asli Papua ini, melibatkan penggiat wisata yang ada di Raja Ampat, seperti kelompok organisasi perkumpulan masyarakat dari Asosiasi Speedboat, Ojek, Rental Mobil, pengusaha hotel, Himpunan Pramuwisata dan FFI. [DM/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *