Di Moment Kartini 2019, Awin Rumaseuw Bilang Perempuan Papua Sehat, Kitong Hebat

MANOKWARI, gardapapua.com — Wakil Sekjen DPP Partai Amanat Nasional (PAN), dr. Rosaline Irene Rumaseuw, M.Kes, demikian sosok wanita berdarah biak itu,  yang punya ambisi besar ingin melihat perempuan Papua lainnya bisa hadir untuk memperjuangkan hak – hak perempuan dari segi kesehatan.

Di moment jelang HUT Kartini ke – 140 yang jatuh pada Minggu 21 April 2019 ini, Sosok Wasekjen DPP PAN Rumaseuw yang dikenal dengan awin (mama) dokter yang tidak hanya pintar berbahasa Biak, namun bahasa Jawa hingga fasih berbahasa Inggris itu mengharapkan, agar hak perempuan papua dalam mendapatkan pelayanan kesehatan secara menyeluruh patut didapatkan dan diberikan baik oleh Pemerintah melalui pusat pelayanan kesehatan secara gratis.

” Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan kesehatan yang wajib dilakukan oleh para wanita, padahal jarang saya lihat atau dapatkan perempuan papua secara menyeluruh mendapatkan perhatian ini, jikalau tidak melalui waktu – waktu atau moment tertentu saja, “Ucap dr. Rosaline Irene Rumaseuw, M.Kes, kepada gardapapua.com, Jumat (19/4/2019) malam.

Setidaknya ada lima jenis pemeriksaan kesehatan yang wajib dilakukan oleh para wanita:

1. Tes Pap Smear
Tes pap smear berfungsi untuk memeriksa ada tidaknya sel abnormal yang berpeluang berkembang menjadi sel kanker pada vagina dan leher rahim wanita. Idealnya pemeriksaan ini harus dilakukan begitu seorang wanita menginjak usia 21, dan dilakukan tiap tiga tahun sekali. Pada wanita berusia 30 tahun ke atas tes ini bisa dilakukan setiap lima tahun sekali, kecuali bila telah ditemukan adanya perubahan abnormal pada tubuh.

2. Mamografi
Saran dokter, begitu menginjak usia 40 tahun, seorang wanita wajib hukumnya melakukan tes mamografi. Mamografi adalah pemeriksaan payudara dan daerah sekitar payudara dengan menggunakan radiasi sinar X bertaraf rendah. Mamografi mampu mendeteksi adanya benjolan-benjolan kecil yang mungkin tidak terdeteksi ketika dilakukan pemeriksaan rutin biasa. Ingat, deteksi kanker payudara sedini mungkin dapat meningkatkan peluang kesembuhan kanker.

3. Rontgen Osteoporosis
Setelah menopause, banyak wanita yang tulangnya menjadi rapuh. Saat tulang merapuh, para wanita berisiko tinggi terkena osteoporosis. Karenanya, begitu menginjak usia 65 para wanita sangat dianjurkan untuk melakukan rontgen osteoporosis.

4. Pemeriksaan Kanker Ovarium
Kanker ovarium biasanya menyerang wanita yang berusia di antara 50 dan 75. Kanker Ovarium menyebabkan kematian dengan jumlah rata-rata 15.000 wanita per tahun. Maka, pemeriksaan kanker ovarium harus dilakukan para wanita secara rutin. Untuk mendeteksi kanker ovarium, dokter akan memeriksa vagina, dilanjutkan ke rahim dan ovarium.

5. Pemeriksaan Penyakit Jantung
Tiap tahunnya, dibanding lelaki, lebih banyak wanita yang meninggal direnggut penyakit jantung. Oleh karena itu wanita di atas 50 tahun dan wanita yang keluarganya memiliki sejarah penyakit jantung harus melakukan pemeriksaan jantung secara rutin. Pemeriksaan jantung dapat dilakukan dengan elektrokardiografi (ECG) yang mampu monitor adanya keabnormalan pada jantung.

” Namun sayang dari kesemuanya ini sangat tak mungkin didapatkan oleh mereka, karena masalah biaya berobat yang cukup mahal. Padahal dari Rahim dan Asi mereka, lahir generasi – generasi papua. Sehingga penting ini harus diperhatikan baik oleh pemerintah melalui alokasi dana kesehatan, “Harapnya

Advertorial

Awin Rumaseuw lalu melanjutkan, Jika pada tahun 1879, lahir seorang gadis kecil dari Jawa, tepatnya di tanah Jepara bernama RA Kartini yang kemudian menjadi tonggak kebangkitan seluruh perempuan Indonesia, seperti yang tercatat dan diketahui dalam sejarah, Kartini merupakan salah satu pahlawan Indonesia yang menjembatani kebangkitan para perempuan, maka ambisi untuk wajib kesehatan perempuan Papua didapatkan merata dengan baik adalah harapan dan impiannya kelak.

” Saya ingin menjadi terang dan berkat bagi sesama dan khususnya bagi perempuan papua. Karena kalau perempuan Papua sehat, Kitong hebat, “Jelas Rumaseuw yang pernah bertugas sebagai Tenaga Dokter di PT Freeport Indonesia itu. [Ian/Adv]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *