DaerahGarda NusantaraHeadline newsHUMANISNasionalSudut Pandang

Kartini Masa Kini, Hj. Sitti Ma’ani Nina Sosok Perempuan Tangguh Penjaga Ruang Integritas Banten

SERANG, gardapapua.com — Perjuangan Raden Ajeng Kartini harus terus dihidupkan lewat tindakan nyata yang berdampak pada kehidupan perempuan.

Demikian wujud Kartini masa kini, salah satunya ada dalam sosok pimpinan perangkat daerah DR. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si. CGCAE.

Sebagai perempuan tangguh, ia menjadi sosok melalui dedikasi berada pada jalur memimpin, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat serta negara, sebagai punggawa penjaga ruang integritas sebagai Inspektur Daerah Provinsi Banten. Beliau aktif dalam penguatan integritas dan budaya antikorupsi di lingkungan pemerintah daerah.

Sebagai seorang kartini masa kini, Hj. Sitti Ma’ani Nina memilih jalur prestasi dan pengabdian pada penguatan pencegahan korupsi yang dijalankan secara konsisten di setiap Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Banten.

Bagi Nina, ruang Implementasi pencegahan korupsi harus diterapkan dalam tata kelola pemerintahan oleh seluruh pegawai, mulai dari pimpinan hingga staf.

Sebagaimana perannya, Inspektorat berfungsi sebagai Aparat Pengawasan Intern Pemerintah (APIP) yang bertindak sebagai penjaga integritas, akuntabilitas, dan kualitas tata kelola pemerintahan.

Mereka memastikan kepatuhan terhadap aturan, mencegah korupsi, serta melakukan audit kinerja dan keuangan. Meskipun memiliki peran strategis sebagai garda terdepan integritas, efektivitasnya bergantung pada independensi dan kualitas sumber daya manusia dalam menjalankan fungsi pengawasan.

Adapun dalam peringatan Hari Kartini setiap 21 April 2026, sosok Hj. Sitti Ma’ani Nina adalah perempuan tampil anggun dan berwibawa, seakan menghidupkan kembali semangat perjuangan emansipasi di era modern dengan nilai-nilai kehidupan yang terus relevan.

Semangat yang digaungkannya, Perempuan yang akrab disapa Nina ini menilai perjuangan Kartini bukan sekadar sejarah, melainkan refleksi bagi perempuan masa kini untuk terus menjaga martabat dan peran strategisnya.

Momentum Hari Kartini ini juga dapat menjadi pengingat pentingnya peran perempuan dalam mendorong kemajuan daerah. “Kami berharap perempuan di Provinsi se-Banten tetap semangat membantu pembangunan dan terus memperjuangkan kesetaraan gender di tempat dimana ia berdiri,”Ungkap Hj. Sitti Ma’ani Nina, Kepala Inspektorat Banten.

Ia juga menekankan bahwa perempuan di era masa digitalisasi wajib memegang peran strategis dalam pembangunan, baik di lingkungan keluarga maupun dalam ruang sosial yang lebih luas.

Oleh sebab itu, ia mengajak seluruh perempuan di Provinsi Banten untuk terus bersemangat berkarya dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.

“Wujud semangat Kartini perlu diwujudkan dalam langkah konkret, bukan hanya seremonial, dimulai dari menjaga ruang kesehatah ibu dan anak,”Paparnya.

Sebagaimana Tema Hari Kartini 2026 adalah “Bergerak Bersama Menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI)”. Tema ini menegaskan perlunya sinergi lintas sektor untuk melindungi keselamatan ibu sekaligus memperkuat kualitas keluarga dan masyarakat.

 

Perjalanan karir sang Kartini punggawa penjaga integritas Pemprov Banten :

Karier di dunia birokrasi memberikan banyak tantangan dan pelajaran bagi Dr. Dra. Hj. Sitti Ma’ani Nina, M.Si. Bagi wanita cantik yang akrab disapa Nina, menjadi ASN adalah pilihan, bukan hanya profesi tetapi pengabdian seumur hidup. Ia selalu memegang prinsip hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.

“Prinsip itu menjadi pengingat agar saya tidak berhenti belajar, tidak mudah menyerah, dan selalu menjaga niat tulus dalam setiap langkah,” tegasnya.

Nina juga percaya bahwa seorang perempuan dapat menjadi pemimpin tanpa harus kehilangan sisi lembutnya. Dalam setiap keputusan, ia berusaha mengedepankan keseimbangan antara ketegasan dan empati.

Di tengah kesibukan sebagai pejabat publik, Nina tetap berupaya menjalankan peran sebagai istri dan ibu, karena dari keluarga ia belajar arti sebenarnya dari ketulusan dan kekuatan.

“Perjalanan ini belum selesai. Masih banyak yang ingin saya lakukan untuk masyarakat Banten seperti memperkuat sistem perlindungan perempuan dan anak, menumbuhkan budaya kerja yang berintegritas, serta menanamkan nilai-nilai akuntabilitas di seluruh lini pemerintahan,” harapnya.

Keberhasilan bukan diukur dari jabatan yang dicapai, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan untuk orang lain.Itulah makna sejati dari mengabdi dengan hati dan melangkah dengan integritas.

Perjalanan Karier :

Nina memulai karier penugasan di Pemerintah Kabupaten Serang, sekitar tahun 1990-an selepas lulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Bandung. Lulusan SMAN 15 Bandung ini juga melanjutkan pendidikan jenjang S3 sembari berkarier.

“Saat itu, dunia birokrasi masih sangat kental dengan sistem manual dan penuh tantangan. Saya belajar banyak hal mulai dari ketelitian administrasi, disiplin waktu, hingga cara berkomunikasi dengan masyarakat dan rekan kerja.

Dari staf Kelurahan Kota Baru Kota Serang selanjutnya saya ditempatkan pertama kali menjabat sebagai Kasubag Analisa Bagian Perlengkapan, kemudian Kasubag PKD, seiring terbentuknya Provinsi Banten saya mengembangkan karier bergabung dengan Pemerintah Provinsi Banten,” kenang lulusan S3 kelahiran Bandung, 12 Oktober 1968 ini.

Di lingkungan Pemprov Banten, perjalanan kariernya berlanjut melalui berbagai jabatan, dari urusan kepegawaian hingga komunikasi publik. Nina pernah dipercaya menjadi Kabag Protokol, Kabag Dokumentasi, hingga menjabat Kepala Biro Humas & Protokol.

Setiap posisi memberikan pelajaran baru: tentang tanggung jawab, keteladanan, dan pentingnya menjaga kepercayaan publik. Bahkan ia sempat memimpin Biro Pemerintahan dan Biro Umum Setda Provinsi Banten, dua posisi yang mengajarkannya makna koordinasi lintas sektor dan pengelolaan sumber daya secara efektif.

Sejak tahun 2017 sampai sekarang Nina mengemban amanah sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Kependudukan dan Keluarga Berencana (DP3AKKB) Provinsi Banten. Sejak Februari 2025 sampai bulan Oktober ini Nina juga merangkap sebagai Plt. Inspektur Daerah Provinsi Banten.

“Dua peran ini memiliki tantangan yang berbeda, namun saling melengkapi. Di DP3AKKB, saya berjuang bersama tim untuk mewujudkan masyarakat Banten yang ramah perempuan dan layak anak, melalui berbagai program pemberdayaan, perlindungan, kependudukan dan pencatatan sipil serta peningkatan kualitas keluarga. Sementara di Inspektorat, saya berupaya memperkuat tata kelola pemerintahan yang bersih dan berintegritas,” jelasnya.

Sebagai bentuk profesionalisme, Nina juga berkomitmen untuk terus belajar. Salah satunya dengan meraih sertifikat CGCAE (Certified Government Chief Audit Executive), sebagai bukti keseriusan dalam mengembangkan kompetensi di bidang pengawasan dan audit pemerintahan. Sertifikat ini bukan hanya simbol, tetapi juga tanggung jawab untuk memastikan setiap proses pemerintahan berjalan transparan, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan publik.

 

Kunci Hadapi Tantangan : 

Jaga Keseimbangan dan Terus Belajar Di era serba digital ini, tantangan dan rintangan yang dirasakan Nina cukup besar karena menyentuh dua ranah penting dalam kehidupan karier dan keluarga. Sebagai perempuan yang aktif dan adaptif di dunia kerja, Nina menghadapi kenyataan bahwa teknologi berkembang sangat cepat, sementara sumber daya, waktu, tenaga, dan modal sering kali terbatas. Kesenjangan teknologi dan literasi digital masih menjadi kendala, terutama dalam menyesuaikan diri dengan sistem kerja berbasis digital.

“Dalam perjalanan karier saya telah melewati banyak masa dari era mesin ketik hingga kini ketika hampir semua pekerjaan dilakukan melalui sistem digital. Perubahan itu luar biasa cepat. Namun bagi saya, yang paling berat bukan sekadar belajar teknologi baru, melainkan menjaga nilai-nilai kemanusiaan di tengah dunia yang serba otomatis,”Paparnya.

Nina pun bersyukur dapat mengikuti masa transisi itu. Ketika ia memulai karier sebagai ASN muda di Kabupaten Serang, semua dilakukan manual seperti menulis surat, mengetik laporan, menyusun arsip. Kini semuanya serba digital efisien, tetapi juga menuntut kemampuan beradaptasi yang tinggi.

“Saya belajar untuk tidak takut dengan perubahan. Saya selalu percaya, pemimpin harus menjadi contoh pertama yang siap belajar hal baru, bukan hanya menyuruh orang lain menyesuaikan diri,” tambahnya. [Ian/Red]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *