AdvertorialDaerahGarda NusantaraGarda PapuaGarda Papua BaratHeadline newsNasionalRegional

Dibuka Resmi Wamendagri, Rosaline Irene Rumaseuw Kembali Terpilih Pimpin CPP, Ini Harapannya !

JAKARTA, gardapapua.com — Pimpinan Pusat Cendekiawan Perempuan Papua (CPP) sukses menggelar Kongres II Cendekiawan Perempuan Papua tahun 2025, yang dilaksanakan bertempat di Ballroom Hotel Ambhara, Jakarta Selatan (Jaksel), pada Jumat (5/12).

Dalam konferensi tersebut, dr. Rosaline Irene Rumaseuw, M.Kes, kembali terpilih sebagai Ketua Umum CPP untuk periode 2025-2030. Penetapan kepimpinan ini, karena Rosaline Rumaseuw, perempuan rendah hati asal tanah papua, dari Wilayah Adat Saireri, Biak, Papua, dinilai berhasil mempertahankan dominasi dan program kerja keberlanjutan terkait pengembangan kapasitas diri, dukungan kewirausahaan dan berbagai program bakti sosial salah satunya, layanan kesehatan bagi perempuan papua dan pelayanan kerohanian bagi sesama, dan promosi budaya papua di kancah global (internasional) melalui karya seni sebagai desainer.

Terpilihnya Rosaline Rumaseuw menandai keberlanjutan periodesasi kedua kepemimpinan perempuan asli papua di kancah nasional sebagai ketua umum, yang diharapkan kedepannya melalui CPP dapat terus membuka ruang bagi perempuan Papua untuk berkiprah di berbagai bidang.

Hal ini juga diharapkan oleh Pemerintah Pusat, melalui kementerian terkait yang disampaikan oleh Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Ribka Haluk, saat membuka Kongres II Cendekiawan Perempuan Papua, yang mengusung tema “Meningkatkan Kapasitas dan Kepemimpinan Perempuan Indonesia Inovatif, Kolaboratif, Transformatif”, di Ballroom Hotel Ambhara, Jakarta.

Ribka Haluk, dalam kesempatannya menegaskan, bahwa perempuan Indonesia perlu menjadi sosok yang inovatif, kolaboratif.

Dimana melalui momentum ini, diharapkan menjadi langkah strategis, CPP dapat menajdi wadah mendorong peningkatan partisipasi perempuan Papua dalam proses pembangunan daerah, sekaligus memperluas peran mereka dalam ruang publik agar lebih bertransformatif dan mampu menjawab tantangan zaman dan berperan lebih besar dalam berbagai aspek kehidupan sosial modern.

“Kolaboratif ini sangat penting sekali. Sebagaimana ketua umum sedikit sudah menyampaikan jejaringnya. Hal ini agar kita dalam melakukan kerja – kerja sosial, harus mampu melakukan kolaborasi kerja, dengan siapa, apa sudah berjalan. Kemudian transformatif, bagaimana dari nilai yang lama, kita bisa transformasi pada nilai baru, dengan perubahan baru,”Imbuh Wamendagri Ribka Haluk dalam sambutannya.

Kongres yang awalnya dijadwalkan dibuka oleh Ibu Wakil Presiden Selvi Ananda akhirnya diwakili oleh Wakil Menteri Dalam Negeri, Dr. Ribka Haluk, karena Selvi berhalangan hadir. Agenda kongres CPP tahun ini mengusung tema : “Meningkatkan kapasitas dan kepemimpinan perempuan Indonesia yang inovatif, kolaboratif, dan transformatif”.

Acara tersebut juga dihadiri Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat, dimana dalam sambutannya menegaskan, pentingnya peran strategis perempuan Papua dalam pembangunan nasional serta pembentukan generasi penerus bangsa.

Dalam pandangannya, Lestari juga menyebut, bahwa perempuan Papua memiliki kontribusi jauh melampaui isu identitas, sebab mereka memainkan peran fundamental dalam penguatan kebangsaan.

“Perempuan itu adalah tiang negara, dan perempuan cendekiawan Papua adalah motor perubahan yang membawa kearifan lokal dalam pembangunan nasional,”Ucapnya.

Sementara itu, Ketua CPP, dr. Rosaline Irene Rumaseuw, mengapresiasi kehadiran para pejabat yang dinilai memperkuat dorongan moral bagi perempuan Papua untuk terus berkontribusi dalam pembangunan bangsa dan di daerah.

Ketua CPP dr. Rosaline Irene Rumaseuw menegaskan bahwa perempuan Papua kini menghadapi tantangan besar, namun pemerintah semakin konsen memberi ruang. Ia menyebut semakin banyak perempuan Papua yang maju, mulai dari dokter, pilot, anggota dewan, profesor, hingga menteri.

Ia menilai kemajuan pendidikan berjalan pelan tapi pasti, dan semua perempuan hadir hari ini karena peran seorang ibu. Menurutnya, perempuan Papua tidak boleh patah semangat, karena peran mereka tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari-hari dan masa depan generasi.

Rosaline mengingatkan bahwa kemajuan Papua harus dimulai dari diri sendiri. Jika terus bermalas-malasan, perempuan Papua tidak akan maju. “Dari kita untuk kita,” ujarnya, menegaskan pepatah: kalau bukan kita, siapa lagi; kalau bukan sekarang, kapan lagi,”Cetus Rosaline Rumaseuw. [Ian/Tim/Red]

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *