Listrik Bintuni : Hidup Segan, Mati, Iya…!!!

MANOKWARI, gardapapua.com —Masyarakat Teluk bintuni hingga saat ini masih belum menikmati penerangan dengan baik.

Tak terasa, sudah lebih dari 15 tahun kabupaten teluk bintuni dimekarkan dan berbagai julukan seperti negeri dolar, lumbung minyak dan Gas merupakan istilah kabupaten ini namun persoalan listrik yang merupakan kebutuhan dasar keperluan masyarat tak pernah dirasakan maksimal.

Padahal nilai APBD yang besar pun seakan-akan hanya untuk pemanis telinga bagi mereka yang mendengar.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah setempat salah satunya telah melakukan serah terima operasional (STO) sejumlah mesin dan jaringan yang selama ini dikelolah oleh pemda bintuni kepada Pihak PLN bintuni.

Namun, semua upaya itu belum mampu menjawab kebutuhan masyarakat teluk bintuni, bahkan saat ini pemadaman masih terus terjadi.

Berkaitan dengan hal tersebut, pimpinan UP3 Manokwari, Sulisiyo saat dijumpai menjelaskan, bahwa tentang persoalan kelistrikan Bintuni, kemampuan atau kapasitas yang dimiliki PLN teluk bintuni ditambah dengan suplay dari BP migas seharusnya sudah mampu menerangi bintuni.

” Beban puncak di bintuni 3,5 MW, sedangkan pasokan Listrik 4,8 MW, 2,8 MW milik PLN dan 2 MW disuplay dari BP Tangguh, harusnya tidak ada masalah,”Kata Sulisiyo, Rabu (29/5/2019)

Menurut Sulisiyo, permasalahan yang saat ini sering dialami adalah, terjadinya gangguan pada kabel dari BP sepanjang 183 Km, termasuk 30 Km yang berada di jalur laut.

Ia lalu menjelaskan, kualitas kabel yang digunakan saat ini sudah memenuhi standart. hanya saja, kerusakan itu disebabkan oleh hewan bahkan ada yang sengaja melakukan pengrusakan dengan cara memotong kabel.

“Saya menedengar laporan, ada rayap dan kepiting yang menggigit kabelnya, bahkan ada yang sengaja memotong kabel.” tuturnya.

Disinggung mengenai PLTD yang saat ini sedang dalam pembangunan dan pengerjan, Sulisiyo pun mengatakan, hal tersebut bukan jaminan bahwa listrik di bintuni akan nyala terus.

” Ya tidaklah, pasti ada pemadaman, namun pemadaman tersebut akibat pemeliharaan atau ganguan yang tidak tersencan, seperti, Petir atau pohon tumbang,”Tutup Sulisiyo [KK/Red]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *